↻ Lama baca 3 menit ↬

MENCOBA MEMAHAMI GURUH, SALAH SATU PEMERKAYA MUSIK INDONESIA.

Sebenarnya saya tak tahu karya Guruh Soekarnoputra* itu apa saja. Hanya tahu beberapa. Dari CD terakhir, yang saya dapatkan tahun lalu, tak banyak yang saya tangkap — padahal di sana ada 30 lagu (dalam dua CD), merupakan cuplikan untuk musical. Judulnya Beta Cinta Indonesia: Petikan Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra 1971-2011, untuk menyambut pergelaran Beta Cinta Indonesia.

Sebelumnya memang ada beberapa kompilasi. Misalnya Chrisye: Karya Cipta Guruh Soekarno Putra (Musica Studio’s, 2004). Bisa ditebak, 15 lagu di dalamnya adalah kompilasi dari album Chrisye yang dilansir oleh Musica. Biasa, ini masalah bisnis dan hukum. Beda label itu merepotkan.

Melongok Smaradhana

Apa saja sih lagu Guruh yang menarik? Saya ambil satu lagu dengan beberapa versi. Misalnya Smaradhana (1972).

Guruh Gipsy on Grooveshark’}” alt=””> Chrisye & Yockie Suryo Prayogo on Grooveshark’}” alt=””> Chrisye on Grooveshark’}” alt=””>

Versi pertama dari Guruh Gipsy (1976) — tebak itu suara siapa? Kalau bas, itu Chrisye.

Versi kedua oleh Chrisye bersama Yockie Suryo Prayogo (Sabda Alam, 1978), dengan kemasan lebih riang, piano oleh Ronnie Harahap dan bas oleh Chrisye (saat itu hustle masih berjejak).

Versi ketiga, 18 tahun kemudian (AkustiChrisye, 1996) oleh Chrisye bersama Erwin Gutawa. Bas oleh Indro Hardjodikoro.

Tampaknya, sebagian karya Guruh memang lekat dengan Chrisye. Soal bas saya catat karena saya menyukai permaian bas Chrsye. Dalam album-album lama, Chrisye masih bermain bas.

Kembali ke Chrisye, bisa saja dari klip Baladawai Soundversation (UPI Bandung) ini orang lebih teringat Chrisye ketimbang Guruh. Kala Sang Surya Tenggelam (Chrisye, dalam Sabda Alam, 1978, dan AkustiCrisye, 1996) yang diperkaya hajaran gitar Agung (Burgerkill), Akew (Beside), dan Nico (Ballerina) menjadi gahar, tidak ngelangut — padahal lebih enak yang ngelangut. :)

Menerka Guruh

Ada karya lain Guruh yang kuat, yaitu Chopin Larung, yang versi 2011-nya diolah Andi Rianto. Bandingkan dengan versi 35 tahun sebelumnya dalam Guruh Gipsy (1976).

Guruh Gipsy on Grooveshark’}” alt=””>

Chrisye – Andi Rianto on Grooveshark’}” alt=””>

Lagu ini memperkuat sosok Guruh di mata khalayak: seorang nasionalis-patriotis gelisah yang senang mengangkat keindonesian grandeur, dengan idiom dari “puncak-puncak budaya kesukuan” yang seringkali berarti juga berbau keraton. Pelajari saja dokumentasi visual pementasan Guruh dan proses kreatif Guruh berikut serapan keseniannya. :)

Dengan melihat Guruh sebagai bagian dari kaum menak, wajar saja jika lirik Anak Jalanan yang dia maksudkan memang straatjongen menurut istilah Opa dan Oma pada 60-70-an. Yaitu anak kelas menengah yang gelisah — sosok Ali Topan, dari film yang diangkat dari cerber Teguh Esha di majalah Stop kemudian jadi novel pada tahun 70-an. Bukan anak jalanan dari kaum marginal yang hidup dari ngamen dan sebagian suka ngelem.

Pada awal berjaya Guruh mewarnai musik Indonesia, lirik dia menjadi kekuatan karena ramuan arkaisnya. Misalnya dalam Smaradhana: Andika Dewa / Sirna duli sang asmara / Merasuk sukma / Menyita heningnya cipta / Oh… resahku jadinya.

Bermain kosa kata lama sempat menjadi tren pada 1970-an. Mungkin kesannya eksotis dan terpelajar. Padahal lirik Ismail Marzuki yang hebat itu juga eksotis sampai sekarang.

Tentu lagu Guruh yang riang jenaka (tapi pahit) juga ada. Misalnya lagu untuk pementasan pertama (1989), dibawakan oleh Jayusman, dengan lirik berbahasa Melayu zaman kolonial, dibungkus dixie (CMIIW). Itulah Nostalgia Hotel Des Indes. Mari kita dengar…

Guruh Soekarno Putra on Grooveshark’}” alt=””>

Tempo sore berbintang di atas kota / Koe pigi ke Hotel Des Indes / Di dalemnja ada soeatoe pesta ria / Sajang koe dateng sendirian.

Kemudian… Akoe tak moengkin mendapetkannja / Nu ben ik minder,ik ben een inlander / Kapankah Ost Indie djadi merdeka / Harapan orang priboemi / Lopeoetlah soedah si nona idaman / Poelanglah akoe sendirian

Kritik Guruh

Dalam Janger (Swara Maharddhika, 1979 — dari Janger 1897 Saka, Guruh Gipsy, 1975), Guruh sudah mulai mengritik keadaan. Petikan liriknya…

Dulu memahat buat menghias pura (-puri) / dulu menari dengan sepenuh hati / Sekarang memahat untuk pelancong mancanegari / Sekarang menari turut cita turis luar negeri

Guruh Gipsy on Grooveshark’}” alt=””>

Swara Maharddhika on Grooveshark’}” alt=””>

Art shop megah berleret memagar sawah / Cottage mewah berjajar dipantai indah / Karya – cipta nan elok – indah ditantang alam modernisasi / Permai alam mulai punah karena gersang rasa mandiri

Lirik itu ditulis Guruh saat dia berusia 22. Pada 1979, dalam usia 26, saat Soeharto masih berkuasa, Guruh membuat lagu Perikemanusiaan yang menyayat untuk ayahnya, dibawakan oleh Achmad Albar pada 1980, yang saat itu berusia 34. Bagus sekali.

Guruh Soekarno Putra on Grooveshark’}” alt=””>

Mulai 80-an dan setelahnya Guruh tak begitu bergenit kata. Lirik Kesenian seperti terasa melontarkan amarah…

Mengapa kau meremehkan kesenian / Dan kau menganggap para seniman itu pemimpi / Sebelum kau menyadarinya, hentikan dulu lagu ini dan pergilah / Hiburlah dirimu bersama kehampaan

Sinisme juga ada, misalnya dalam Aji Mumpung:

Semua orang ingin menumpuk kekayaan / Namun selalu berkedok kesederhanaan /Abaikan kejujuran untuk mencapai tujuan

Sudut pandang saya tentang karya Guruh mungkin salah akibat keterbatasan rujukan. Tetapi sejauh ini ya itulah yang saya tangkap. Di mata saya, Guruh tetaplah musisi penting yang memperkaya khazanah musik Indonesia.

*) Penulisan nama lengkap Guruh dalam beberapa album rekaman adalah Guruh Soekarno Putra. Padahal Wikipedia Inggris dan Wikipedia Indonesia menyebutnya Guruh Soekarnoputra.