↻ Lama baca 2 menit ↬

TAKUT KECOLONGAN, TAKUT DISAINGI. DEMI KARIER.

“Hindari melontarkan ide saat berdua saja dengan teman sekerja,” kata radio itu dalam kemasan terekam. Juga, “Forum paling baik untuk melontarkan ide adalah meeting. Di sana banyak saksi bahwa ide itu dari Anda.”

Jadi, intinya, “Setiap orang harus melindungi idenya agar tidak dibajak oleh teman sekerja bahkan atasan.”

Misalnya, “Jangan semuanya dibuka. Harus ada bagian terpenting yang Anda simpan.”

Itu belum cukup. Masih ada garis bawah, “Jangan sampai ide Anda hanya berhenti sebagai ide yang diketahui bersama, tapi eksekusinya tidak melibatkan Anda.”

Kenapa begitu, “Karena ide adalah bagian dari karier Anda.”

Kantor kok ndak nyenengin

Sabar, itu bukan kutipan persis. Tetapi kurang lebih begitulah isinya.

Dan saya pun merenung, sebegitu menegangkannyakah sebuah lingkungan kerja, akibat tekanan oleh kompetisi antarsejawat?

Bisa-bisa setiap orang akan pelit ide, atau penuh kiat politik kantoran dalam bekerja, karena takut dibajak dan dimanfaatkan teman bahkan atasan. Sungguh tidak nyaman.

“Karena kita dikelilingi pembajak yang tega menghalalkan segala cara,” kata Anda. Oh, dikelilingi? Alangkah menyeramkannya.

Mungkin saya naif karena belum pernah berada di lingkungan kerja yang berisi serigala pemangsa gagasan. Pada 2009, saya menulis soal ide dan pembajakan itu (Credit Point-nya untuk Saya, Ya?).

Ketika lingkungan kerja membuat kita was-was, kurang dapat mem(p)ercayai sejawat, entah dari mana pangkal soalnya, maka bagi saya itu neraka. Saya pernah beberapa kali mendapatkan curhat macam itu. Berisi keluhan dan ungkapan hati terlukai oleh pengkhianatan.

Saya tak dapat memberikan solusi jitu. Maklumlah saya bukan ahli manajemen kerja. Saya juga bukan ahli psikologi organisasi atau industrial.

Berbagi dan perlindungan diri

Lihatlah media sosial. Ya di megablog, mikroblog, jejaring sosial, dan forum. Di sana ide bertebaran, dari yang ringan sampai berat. Bahkan presentasi pun dibagikan oleh pembuatnya di wadah semacam Slideshare, tapi orang yang tahu diri takkan berani membajak konten di sana semaunya tanpa menyebutkan sumber. Di YouTube juga bertebaran paparan pemikiran dalam wujud video.

Jadi kalau kita mengembangkan gagasan dari burung kertas yang beterbangan, ya tinggal mengaku sejak awal saja kan? Kita bukan menunggu orang lain membuka diri, tetapi kita yang memulainya.

Lagi pula, lambat atau cepat, kalau kita cuma mencomot punya orang pasti akan ketahuan. Internet adalah dokumentasi raksasa, dan mesin pencari adalah alat bantu untuk mencari jarum di tengah jerami teks.

Meskipun begitu, sebenarnya masing-masing dari kita sudah memiliki naluri perlindungan diri; seterbuka apapun medianya. Hanya saja tingkat perlindungan diri setiap orang berbeda, bergantung kepentingan, situasi, dan kondisi. Kalau ada informasi garage sale rahasia berisi barang bagus murah, ide Anda untuk membeli paket murah pasti Anda simpan sampai hari H, bukan?

Setelah semuanya di tangan baru berbagi di media sosial. :P Di dalamnya ada kiat mencari barang murah. Itu bisa disebut berbagi ide. :D

Nah, di sini saya mau berbagi ide sepotong. Di Jakarta ada beberapa cewek SMA ber-uang saku cukup,  yang setelah membeli CD langsung mengonversikannya ke MP3. CD asli? Dijual murah, tanpa iklan. Mereka generasi digital, tak mau menyimpan physical format, tapi entah kenapa tak membeli langsung lewat iTunes.