• Lama baca: 2 menit →

Saya selalu butuh ponsel simpel. Monokrom tak soal, tanpa kamera, cuma buat menelepon dan ber-SMS, untuk nomor utama saya yang sudah belasan tahun usianya.

Untuk ponsel serbabisa sudah ada yang lain. Bisa memotret, menangani enam akun surel (surat elektronik, e-mail), bisa ber-Facebook-ria, bisa berkicau di Twitter, siap ber-messenger apapun, bisa baca detik.com versi mobile, sanggup menerima streaming, dan memanfaatkan pelbagai layanan geotagging.

Adakah ponsel simpel tapi oke di Indonesia? Sejauh saya tahu tidak memuaskan. Terutama dari sisi harga, desain, dan antarmuka (interface).

Lihatlah ponsel di bawah Rp 300.000. Terlalu kecil layarnya–maksud saya hurufnya. Phonebook-nya maksimal hanya memuat seratus entri (malah ada yang cuma 50), dan kagok (bahkan macet) untuk menerima migrasi vCards.

Sudah begitu ketika masuk ke menu dalam, eh… tampilannya tak menarik. Ponsel murmer dari Cina, misalnya. Untuk texting serasa kembali ke buku tulis mikro, dengan font berukuran kecil, dan tak selesai dalam dua langkah. Kalau Nokia 1661 (Rp 315.000)? Desainnya kurang bagus.

Gampangannya, yang saya butuhkan adalah ponsel simpel dengan menu dasar senyaman Symbian tapi dikurangi layanan internet.

Huh, rewel! Kan mestinya bisa pakai ponsel mutakhir tapi yang dipakai hanya telepon dan SMS?

Percobaan pada BlackBerry membuktikan itu tak nyaman. Tanpa mengubah setelan, pemencetan M atau X bukannya menghasilkan awalan nama dari buku telepon tapi ke speed dial. Lagian ngapain ada barang berfitur lengkap tapi yang dipakai dua fungsi saja? Ini sama saja beli gaming computer hanya untuk mengetik.

Jika melihat John’s Phones dari jauh–karena belum memegang  maka ponsel simpel ini tak nyaman. Layar LCD ada pada penampang sisi ketebalan atas. Padahal dari sisi desain sebetulnya oke. Sudah begitu dia tidak bisa ber-SMS. Dengan harga 80 euro (sekitar Rp 960.000), barang ini kayaknya cuma buat lucu-lucuan.

Oh ya, kan ada SonyEricsson Pureness yang layarnya tembus pandang? Itu simpel, monokrom, tanpa kamera. Tapi dengan harga sekitar Rp 10 juta (harga terakhir di Jakarta pertengahan tahun lalu) itu menjadi barang ngeselin. Sebenarnya tak simpel sih, karena dia seperti smartphone umumnya, hanya saja minus kamera.

Kalau Vertu Constellation Pure Black? Itu sih ter-lalu-luh! Harganya hampir Rp 80 juta, tidak menjamin komunikasi lebih lancar, tak ada garansi bahwa pemiliknya jadi ganteng. Ada juga sih replikanya, buatan Cina. :D

Jadi,apa yang saya butuhkan tahun 2011 ini? Semacam Bluechipworld VX3 yang SIM free itu? Bukan. Ini lho: ponsel simpel, desain bagus, tanpa kamera, tanpa media player, monokrom lebih bagus, berlayar besar, kalau bisa model layar sentuh, navigasi mudah, memuat 1.000 entri nama, harga di bawah Rp 345.678. Ada saran?

Sungguh aneh jika simplicity juga berarti berarti “luxuriuosity“.

*) Dimuat dalam Kolom Paman Tyo di detikinet, Senin 3 Januari 2011

Pemilik BlogSalinandesain,fitur,ponsel,smartphones,spesifikasiSaya selalu butuh ponsel simpel. Monokrom tak soal, tanpa kamera, cuma buat menelepon dan ber-SMS, untuk nomor utama saya yang sudah belasan tahun usianya. Untuk ponsel serbabisa sudah ada yang lain. Bisa memotret, menangani enam akun surel (surat elektronik, e-mail), bisa ber-Facebook-ria, bisa berkicau di Twitter, siap ber-messenger apapun, bisa...Suatu atau sebuah blog?