↻ Lama baca < 1 menit ↬

KALAU SAJA KITA BISA TERBEBAS DARI AGENDA APAPUN…

Baru beberapa jam lalu saya tahu bahwa besok, 7 Desember, itu hari libur. Itu pun karena ada yang mengingatkan. Setahu saya hanya Natal dan tahun baru yang prei.

Artinya saya bukan bisnisman karyawan yang baik. Bahkan sampai petang tadi saya masih merencanakan akan memanfaatkan Senin dan Selasa untuk merampungkan pekerjaan.

Sekian lama, bahkan sejak kuliah, saya memakai agenda. Kemudian ketika ada komputer maka agenda saya pindahkan ke digital. Ketika ada peranti genggam maka kalendarnya saya sinkronisasikan dengan komputer.  Google Calendar mempermudah itu. Kalau dulu ya Plaxo.

Ketika kini saya tidak lagi punya pekerjaan jelas maka sebisanya saya tak menengok kalendar, bahkan tahun ini saya tak memasang kalendar meja maupun dinding di “ruang kerja”.

Belakangan, tanggal pada arloji pun sering tertinggal, karena setelah bulan yang berumur 30 hari berlalu, tanggalnya tak saya majukan. Sampai segitunya… Padahal dulu saban pagi saya mengecek agenda di ponsel.

Lama kelamaan saya ingin terbebas dari itu, dan cukup mengandalkan ingatan serta pengingat dari orang lain. Mungkin ada desakan dari bawah sadar untuk merdeka, tak ikut jadwal orang lain. Tapi apa mungkin?

Selama saya berhubungan, hidup bersama, dan bergantung nafkah dari orang lain maka saya harus peduli jadwal. Bukankah supertriliuner pun tak dapat membeli semuanya dari orang lain?

Nah, kembali ke judul ya. Apakah Anda pernah mengabaikan tanggal? Seberapa sering? Adakah akibat buruknya? Bagi dong… :)