Paku dalam Ikan

▒ Lama baca < 1 menit

Untunglah saya tak makan terburu-buru. Ketika sendok memisahkan daging bawal dari duri saya tak memergoki barang itu. Padahal bawal itu tipis, kan? Pada kunyahan pertama langsung “klethus”. Telapak  tangan saya menutupi proses pelepehan dari mulut. Hwarakadah! Ini bukan mata kail. Ini paku!

Saya pun memotretnya. Tapi sebutir kerupuk kulit kurang mewakili karena kebetulan saya mendapatkan yang bungkik, kecil dan keras — bisa-bisa Anda menyangka itu krècèk yang menggembung. Lantas saya comot sebatang tusuk gigi bersih untuk perbandingan ukuran. Maaf jika foto itu tak menyamankan mata Anda.

Saya sempat berpikir untuk mengadu atau tidak kepada pemilik kedai. Sempat khawatir disangka mengada-ada. Akhirnya risiko itu saya ambil. Saat membayar di kasir saya melapor. Responnya mengharukan, “Kok bisa sih?” Dia terus menghitung uang kembalian. Cuek.

Itu lebih baik ketimbang dia menuduh saya mengarang, padahal tamu-tamu kedai tampaknya sudah kenal baik dengannya — artinya saya minoritas, padahal tak punya ilmu akting.

Tinggalkan Balasan