↻ Lama baca 2 menit ↬

ADA DUA JAWABAN: MERAWAT KARUNIA DAN MENGEJAR YANG BISA DIRAIH.

Dua iklan, pada hari yang sama, di halaman berbeda, di Kompas. Mereka sadar bahwa manusia tak sempurna; karena itu perlu diingatkan, dihasut, diyakinkan, bahwa kesempurnaan bisa diupayakan. Dengan membayar. Dengan harapan ini: lekuk memukau sesosok tubuh. Setidaknya memukau diri sendiri di depan cermin.

Mereka, dua klinik kecantikan itu, juga sadar bahwa sejak dulu sebagian manusia menolak menjadi tua. Tepatnya: menolak tampak tua.

Muda adalah hari ini. Adapun tua adalah dua wilayah linier di belakang dan depan, tentang masa lalu dan masa esok. Itu dua hal yang seringkali tak menarik untuk dibahas, sehingga di era media sosial foto lama yang kurang keren jangan sampai terpampang dan menyebar.

Selalu tampak muda adalah serupa ilusi bahwa seseorang bisa tiba-tiba muncul dari batu kapur atau buah kelapa. Tanpa asal-usul panjang. Tak perlu penelusuran ke hulu riwayat.

Apakah kesempurnaan ragawi itu? Iklan itu sudah menjawab. Dan lagi-lagi sejumlah tentangan pun berbunyi, mirip paduan suara liturgis yang lagu dan cara menyanyikannya tak pernah berganti.

Misalnya tentang kriteria kecantikan sebagai hasil konstruksi industrial — yang tentu saja peran lelaki ikut dipersalahkan. Untuk Indonesia adalah sosok perempuan berkulit putih alumna Pond’s Institute, berambut hitam lurus seperti model sampo, dan tentu saja langsing.

Lantas muncullah sanggahan. Dari yang berupa pengecualian tentang contoh si cantik yang tak seputih iklan (dan tetap pengecualian sebagai sempalan arus utama) sampai ajakan menjadi diri sendiri.

Sinisme tentu ada. Misalnya mengapa yang putih-cantik-langsing tak ikut memprotes, bahkan terus mempertahankan ke-putih-an (bedakan dari “keputihan”), kelangsingan, dan rambut hitam lurusnya?

Yang lebih menohok juga ada. Berupa tanya: “Misalkan Diajeng lahir kembali dan boleh memilih kemasan, jujurlah ingin berkulit apa, berpostur apa, berambut apa?”

Tentu saya punya saran berupa jawaban taktis bagi yang kurang percaya diri: “Karena cuma berandai-andai, dan saya butuh aman, maka saya ingin cantik sesuai kriteria zaman saya dilahirkan kembali.”

Biro iklan punya jawaban pamungkas. Itu semua berdasar`survei. Apa yang dipersepsikan sebagai cantik ya seperti itu. Secara hiperbolis saya bumbui, “Jangan rewel. Terimalah kondisi diri sendiri kalau berbeda dari keinginan pasar.”

Jadi mengapa harus sewot setiap kali industri menghasut perempuan untuk mewujudkan keinginan tersembunyinya? Jawaban bijak bilang, “Masalahnya anak-anak dan cewek remaja bisa terpengaruh. Jangankan mereka, yang dewasa pun terpengaruh iklan. Ingat kasus Barbie dan anoreksia?”

Silakan tambahkan contoh sendiri. Tapi saya yakin iklan sejenis akan terus nongol: kemarin, hari ini, dan esok.

Sebesar-besarnya koreksi dan perlawanan tetaplah catatan, belum mengalahkan arus kuat — arus yang ditentang, bahkan mungkin dibenci, tapi bagi yang lain masih diamini.

Lantas kita pura-pura cuek kalau tak sependapat sambil mengulang mantera, “Be yourself, be yourself…

Oh ya, carilah aneka opini di Kaskus dan Twitter tentang “kulit putih”. Salah satu kicauan berbunyi, “Percuma kan kalo muka cantik, badan ideal, kulit putih mulus tapi iman bobrok kelakuan busuk. Ahzek .” Waduh.

NB:  Kita tunggu kampanye kosmetik dengan isyu “kulit putih” (atau “kulit terang, sehat, dan bersih”) di media sosial dengan mengerahkan sejumlah influencers. Akan munculkah perlawanan terbuka?