• Lama baca: 2 menit →

DI KANTOR LAIN BOLEH, KENAPA DI SINI NGGAK?

Satu lagi saya dengar sebuah kantor menutup akses ke Facebook. Alasannya, demi efisiensi bandwidth dan produktivitas. Hmmm… saya mengulang posting tahun 2007 tentang Kantor sebagai Warnet Gratis? Sedikit. Mengulang apa yang pernah saya tulis di Facebook (Facebooking @ Kantor: Boleh atau Diblok Saja?)? Ah, juga cuma sedikit saja kok.

Uh, ralat! Daripada memutar lagu lama lebih baik saya sodorkan lagu baru. Izinkanlah saya dengan memohon maaf bertanya: jika bekerja di kantor itu, apakah sebagai pengguna Facebook Anda akan protes?

Bila jawabannya, “”Ya dong! Jelas!”, berarti Anda normal. Tercabutnya sebuah keasyikan, gratis pula, jelas bikin kuciwa dan gusar. Ini represif, tanpa atau tidak semena-mena (=sewenang-wenang), mirip rudapaksa.

Pertanyaan kedua dari saya tanpa permintaan maaf. Seberapa banyakkah pekerjaan Anda terbantu oleh Facebook dan layanan internet lainnya, termasuk blog, mikroblog, messenger, audio-video streaming, dan bahkan torrent?

Jika jawabannya “Sangat amat banget!” maka saya acung jempol. Hari gini kerja tanpa internet itu tak mungkin. Nah, bagaimana mengukur sangat amat banget nian pisan sekali itu, Anda yang lebih tahu.

Misalnya? Tanpa terhubung ke orang luar dari beragam profesi, dan tanpa bantuan hiburan maupun segala berkas unduhan, maka materi yang Anda kerjakan tidak bisa jadi. Artinya Anda berhak menggerakkan para sejawat yang sehaluan-sepikiran-senasib-sehobi untuk membuat petisi kepada manajemen.

Oh, bisa saja bukan cuma pasal penggenapan pekerjaan, tetapi internet telah membantu pengembangan diri Anda baik sebagai karyawan maupun pelaku profesi, sehingga pembatasan akses akan membonsaikan Anda?

Ehm, silakan berdiskusi dengan HRD, dengan materi utama seberapa banyak pengembangan diri Anda (karena dukungan internet) itu akan menguntungkan lembaga atau kumpeni. Setidaknya, menguntungkan di mata manajemen. :)

Aha! Taruh kata Anda dapat membuktikan bahwa pekerjaan beres, bahkan melebihi terget, karena Anda punya kemampuan manajemen waktu yang bagus, bisa multitasking (Boy Avianto pernah meralat: rapid refocusing) sambil ber-FB-ria dan chatting (sekalian meramaikan milis ini dan itu), bagaimanakah jawaban orang HRD?

Saya tak membayangkan jawaban dia atau mereka dari HRD. Saya malah berbelok soal. Misalkan Anda jadi bagian dari manajemen yang harus membatasi akses internet tertentu, dan mendapatkan semua sanggahan, sejak pengembangan diri sampai bukti target, bagaimanakah Anda menjawabnya?

Semoga dalam dialog (Anda sebagai wakil manajemen atau bos) itu tak ada kilah dari karyawan, “Di kantor lain boleh, malah bebas, mau ngeliat bokep juga bisa kalau mau, yang penting kerjaan beres, karena semua orang diperlaukan dewasa, kenapa di sini nggak?”

Jika ada, semoga Anda tidak mendadak terpancing untuk menukas, “Lha ya sana, Anda kerja di kantor lain supaya bebas berwarnet gratis di tempat kerja!”

Dahulu kala, pada abad lalu, ketika kantor belum berinternet, maka persoalan manajemen hanyalah karyawan yang doyan nge-game di tempat kerja…

© Gambar asli kamar kecil: entah

Pemilik BlogKomedi Indonesiaetika internet di kantor,internet gratis,kantor,warnetDI KANTOR LAIN BOLEH, KENAPA DI SINI NGGAK? Satu lagi saya dengar sebuah kantor menutup akses ke Facebook. Alasannya, demi efisiensi bandwidth dan produktivitas. Hmmm... saya mengulang posting tahun 2007 tentang Kantor sebagai Warnet Gratis? Sedikit. Mengulang apa yang pernah saya tulis di Facebook (Facebooking @ Kantor: Boleh atau Diblok...Suatu atau sebuah blog?