↻ Lama baca 2 menit ↬

SELAIN NASIB DAN PILIHAN, APA LAGI?

Maka sinyo itu pun bertanya soal pacaran dan perkawinan, “Mana yang lebih egois(tis), cowok atau cewek, Mas Paman?” Jawaban saya: cewek cenderung lebih egoistis. Kenapa?

Cewek cenderung kejar setoran, ingin menikah selagi masih subur, dan sadar bahwa semakin tua akan semakin sempit pasarnya, sehingga ujung-ujungnya cowok diminta mengalah, tapi cewek malu mengakui –– apalagi mengumumkan diri –– kalau takut jadi perawan tua, apalagi sampai pakai kaos ‘Aku Takut Jadi Perawan Tua”. :D

Itu bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Jawaban saya juga mirip RBT; begitu terus. Taruh kata sejoli pacaran sejak usia 17 lantas cowoknya memilih menikah setelah pensiun, dan harus punya anak, maka besar kemungkinan si cewek akan memilih cowok lain dengan kesedihan utama mengapa pacarnya yang sudah disekolahkan orangtuanya itu tak paham biologi manusia.

Ilmiahkah pendapat saya? Tentu tidak. Berdasarkan surveikah? Nggak dong. Yakin kalau itu benar? Entah.

Maka baiklah saya ceritakan teman saya. Pak A selalu menganjurkan anak-anak muda yang pacaran, apalagi kalau sudah bekerja, untuk segera kawin. “Kalo nunggu siap, kalian nggak akan siap,” katanya. NB: Pak A itu kawin muda, setahun setelah bekerja.

Lain lagi Pak B. Dia menikah dalam usia 19. Kalau jalan bersama putra tunggalnya, mereka seperti kakak beradik. Bedanya, bapaknya gondrong dan anaknya cepak. Persamannya: mereka pakai anting-anting.

Nah ketika menjelang 40 Pak B menyambut sejawat yang barusan menikah dalam usia menjelang 45. “Curang dia!” kata Pak B kepada saya. Kami bertiga tertawa.

Mari kita menengok Pak C. Dia menikah dalam usia selewat 40 ketika kepalanya mulai beruban (dan kian beruban). Salah satu hasil: dia kesal jika orang lain menyangka anaknya sebagai cucu atau anak dari istri kedua lantaran jarak usianya jauh banget. “Tahu gitu aku kawin muda,” gerutunya.

Bagaimana dengan Pak D dan istrinya. Pak bisa memahami jika putri tunggalnya yang berusia 22 ingin segera kawin. Bahkan dia membolehkan putrinya menikah tanpa resepsi –– lebih baik duitnya buat berbulan madu keliling dunia. Yang penting cinta, dan suaminya baik.

Akan tetapi Bu D kurang setuju dengan dua alasan. Pertama: sayang terhadap masa muda si genduk. Kedua: si ibu (40-an) masih ingin menikmati karier dan tak ingin diganggu oleh cucu yang berkemungkinan besar akan dititipkan ibunya kepada neneknya karena si ibu muda masih suka ngelencer dan hura-hura.

Baiklah, jawaban netral dan aman untuk semua kasus itu pastilah “itu semua soal pilihan dan mestinya konsekuensinya sudah dipikirkan masak-masak”. Dunia aman dan damai deh.

Oh dunia tak berubah? Membosankan juga. Untunglah ada perubahan. Beberapa orang yang lebih tua dari saya heran mengapa sebagian cewek sekarang tak terburu-buru menikah. Tetap tenang dalam usia menjelang bahkan setelah 30, dan bukan karena pasar sepi, toh teman kencannya ada saja, dan yang patah hati juga ada.

Tanpa merujuk data sahih, saya bilang bahwa anak-anak produk KB lebih telaten dalam menikmati dunia. Sekolah secepat mungkin, bekerja sesuai hati dan syukur target gaji, selebihnya adalah bersenang-senang, termasuk traveling. Untuk menikah tak perlu buru-buru –– artinya “teori” saya tentang “egoisme wanita” itu gugur.

Generasi ayah dan ibunya, dan yang lebih tua, kelahiran tahun 50-an dan 60-an, biasanya lahir dalam keluarga besar yang jumlah anak lebih dari empat. Jika mas dan mbakyu lulus lalu bekerja maka mereka harus membantu menyekolahkan adik-adiknya — termasuk adik ipar, bahkan adik sepupu. Setelah itu ikut merenovasi rumah orangtua. :D

Kecil peluang bagi mereka untuk bersenang-senang secara leluasa, misalnya melancong ke luar negeri, membangun perpustakaan pribadi, dan memodifikasi mobil.

Hubungan dengan tidak tahan melajang berlama-lama? Itulah yang saya nggak tahu. Generasi lama itu meskipun repot dan harus memendam impian senang-senang anehnya cenderung lekas kawin. Kalau pacarannya sejak kuliah maka sebelum 30 sudah menikah.

© Ilustrasi: wvs.topleftpixel.com