↻ Lama baca 2 menit ↬

MEMANG PELIK, TAPI HARUSKAH MEMAKSAKAN KEHENDAK?

Girls Aloud memelorotkan celana dalam di depan khalayak
Girls Aloud memelorotkan celana dalam di depan khalayak • © Foto: Tak diketahui

Ya, kelima wanita muda itu memelorotkan celana dalamnya. Saya tak tahu apa acaranya. Tapi dalam gambar itu terlihat ibu-ibu dan anak-anak. Oh ya juga terlihat logo Disney Kids Award. Yang terasa adalah suasana riang penuh canda.

Sopankah? Mungkin hadirin acara bisa menenggangnya. Maksud saya hanya terbatas dalam acara itu. Begitu gambar tersiar keluar, ukuran kesopanan dan kepantasan bisa beragam. Taruh kata itu muncul dalam acara pemerintahan tentulah kurang layak — bahkan bagi masyarakat yang permisif sekalipun.

Cabulkah? Bagi saya tidak. Bagi Anda mungkin cabul.

Merangsangkah? Bagi saya tidak. Lucu saja. Oh ya juga indah karena wanita yang tampil memang layak pandang.

Tapi seksi kan? Ehm, iya sih.

Bagaimana kalau saya jadi satu dari orang dewasa di sana, dan hadir bersama anak-anak saya, tapi acara itu berlangsung di Indonesia, dengan mayoritas tetamu orang Indonesia?

Hmmm, mungkin saya mendua. Saya menganggapnya tak sopan dan itu tidak boleh. Tapi kalau acara itu terbatas untuk orang dewasa, dan para pelakunya tak merasa dipaksa, ya biarkan saja. Kalau saya sreg ya bertahan, kalau muak ya pulang.

Alangkah sulitnya mengukur apa yang yang cabul atau jorok tanpa melihat konteks. Saya pasang gambar ini dengan kesadaran akan menuai risiko dituding menyebarluaskan percabulan. Bagaimana tanggapan orang per orang dari keluarga saya, karena mereka juga membaca blog ini? Saya belum tahu. Hanya dengan contoh kasus (gambar) yang (menurut saya) rada aman maka kita bisa berdiskusi di sini.

Taruh kata gambar entah dari mana ini (saya temukan di Google, tapi lupa URL-nya) memang cabul, merusak akhlak, lantas aturan apa yang kita butuhkan? Melarang sama sekali atau membatasi penyiarannya?

Di luar soal hukum adalah kontrol sosial. Anda berhak menegur saya. Misalkan tak menegur saya secara langsung dan terbuka, Anda dapat mengucilkan saya lalu mengajak para pembaca agar memboikot blog ini.

Sesederhana itukah? Ya untuk kasus gambar ini. Untuk gambar lain, yang bahkan oleh orang dewasa penggemar sajian cabul dianggap tak pentas dipertunjukan kepada umum, tentu masalahnya berbeda.

Untuk urusan ekstrem, penimbangan masalah memang lebih mudah. Kalau sampai penggemar sajian dewasa pun rikuh mempertunjukannya kepada khalayak, berarti isi tontonan mata itu memang keterlaluan.

Seperti yang pernah saya sebut dalam tulisan-tulisan lama, di negeri permisif pun ada pembatasan. Tak ada pedagang kali lima yang menggelar DVD hardcore di lapak secara bebas. Penjual dan pembeli majalah dewasa pun tak berani mempertunjukkannya kepada anak-anak karena itu melanggar hukum. Hendaknya yang dewasa memang untuk orang dewasa.

Kembali ke gambar. Apakah (misalnya) busana pesta yang terbuka harus dilarang dengan sebuah perda bahkan undang-undang? Apakah (misalnya) pakaian renang harus dibatasi secara ketat oleh negara? Pengelola tempatlah yang pertama-tama menetapkan peraturan dengan sepenuh kesadaran para tetamu yang tak nyaman akan menyingkir.

Yang tak nyaman itu bisa mereka yang merasa dibatasi, bisa juga mereka yang membutuhkan pembatasan tinggi. Ada sebuah mekanisme sosial dalam tawar-menawar. Itulah cara bermasyarakat secara dewasa.

Ada baiknya kita memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menimbang. Dewasakanlah mereka dengan menimbang sendiri mana yang nyaman dan pantas untuk sebuah keperluan.

Salah satu ukuran ketidakpantasan adalah sikap orang sekitar, misalnya menolak atau tidak dan mencibir atau tidak cara berbusana dan perilaku kita.

+ Bonus: Hiburan dewasa dalam blog