↻ Lama baca < 1 menit ↬

MUNGKIN JUSTRU ANDA SEMUA YANG PINTAR.

orang pintar suka jamu, bisa bikin roket

Ya, siapa yang disebut orang pintar selain yang doyan jamu? Ahli telematika eh multimedia? Pencipta Blue Energy atawa Banyu Geni? Penyumbat semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo? Permadi, Mama Lauren, Ki Joko Bodo? Saya mencoba merumuskan itu semua gara-gara sebuah liflet tentang bahan pencampur bensin.

Tidak, saya tidak akan berdiskusi soal pendongkrakan nilai oktan atau apalah. Saya terkesan oleh ini: “Ahli roket pun bingung dan perlu berguru ke mereka.” Itulah yang termaktub di sana.

Aha! Ahli roket! Saya ingat ungkapan orang-orang sepuh sewaktu saya kecil untuk menyebut tingkat kepandaian: bisa bikin roket. Ya, roket yang “hanya” langkah lanjutan dari mercon luncur ses-dor itu.

Tapi ungkapan “ahli roket” (dulu: achli roket) itu masih muncul hari ini. Hari yang ketika bloggers menyebut “di zaman Apollo ini…” malah akan mengundang kerut kening. Saya cari “zaman apollo”, “jaman apollo”, dan “abad apollo” (lha kan sudah ganti abad?) di blogsearch ternyata tidak ada. Mungkin saya yang kurang cermat.

Dulu orang pintar dalam masyarakat kita itu hanya dokter, insinyur, dan ahli hukum. Itulah sebabnya sebagian tokoh pergerakan nasional kita berasal dari lulusan sekolah tabib tinggi, ingeneur, dan meester in de rechten.

Ahli filologi, ahli hermeunetika, ahli aktuaria, atau ahli ornitologi secara umum belum dianggap pintar. Paling hanya diakui oleh khalayak ramai maupun sepi sebagai sarjana, pokoknya terpelajar. Iya sih, soal istilah. Kalau “pakar burung” mungkin langsung mematuk peta persepsi orang karena ada kata “pakar” yang mencerminkan ekspertisi.

Jadi, siapa orang pintar kita sekarang ini? Bloggers? Mereka mah orang-orang usil sok tahu, kurang kerjaan pula. :D