↻ Lama baca 2 menit ↬

MANA YANG SIHIR, MANA YANG SAHIH.

jin pembawa harta karunSeratus juta rupiah, jika semuanya terdiri dari, eh… atas, seribuan tentu banyak. Kalau disebarkan dari udara pastilah menjadi sebuah sensasi. Bahwa di balik itu ada matematika pemasaran, itulah pintarnya si pemilik dan pembagi uang.

Bagaimana dengan orang yang mengaku punya warisan (uang?) senilai Rp 18.000 triliun? Pada tingkat dasar, ini magnitudo yang meledek rupiah, sehingga batas ukuran maksimal di kepala awam (yaitu triliun) telah jauh menjebol awan. Angka sebesar itu akan dibagi-bagikan melalui penyaluran.

Untuk yang pertama (penyebaran uang) semuanya terukur. Rp 100 juta, untuk lingkup dan kepentingan tertentu, adalah sesuatu yang terjangkau.

Untuk yang kedua (warisan), sungguh gaib. Apakah kantor pajak tak tahu? Misalnya sepuluh persen saja berupa uang di bank, dan sepuluh persen sisanya berupa logam mulia di safe deposit box, itu jelas angka gede yang tidak gaib.

Jika sebagian kekayaan menyangkut penguasaan lahan, bahkan misalnya diatur oleh hukum adat, hak ulayat, atau konsesi apa pun, Badan Pertanahan Nasional pasti tahu.

Kalau sebagian besar lainnya ditangani fund managers dan sejenisnya, tampaknya gaya sang juragan kagetan jauh dari itu.

Lantas kenapa tiba-tiba sejumlah orang tersihir oleh ledakan rezeki yang diwartakan dan ditawarkan oleh seorang mahakaya baru?

Uang. Tepatnya dongeng harta karun. Itulah sihir yang memukau. Seorang menteri agama pernah tersandung harta karun. Sejumlah nama pernah mengaku tahu harta karun, harta tersembunyi, termasuk dana revolusi. Hanya yang berkaitan dengan harta Pak Karun di bawah laut, dengan dukungan riset, dan keberanian mengambil risiko, yang berpeluang membuahkan hasil.

Tempo hari, awal Mei, di sebuah warung, saya berkenalan dengan seseorang yang sangat terpelajar, banyak pengalaman, banyak bepergian. Gayeng diajak berdiskusi. Kesan saya dia bukan pembohong. Dia juga bukan orang yang tiba-tiba muncul, karena kalangan di sekitar warung — preman, tukang parkir, satpam — mengenal dia dengan baik sebagai orang kantoran berpenampilan sederhana yang ramah dan pemurah.

Namun ketika malam kian berat, dia berbelok topik ke keris, tombak, pusaka, harta karun, dan… warisan misterius Bung Karno yang angkanya saya tak ingat tetapi ajaib.

Dia katakan ada semacam paguyuban yang sedang menjalani laku prihatin, termasuk dirinya, demi penemuan warisan itu, yang diyakini akan bermanfaat untuk mengatasi masalah ekonomi Indonesia.

Hari hampir berganti. Saya makin ngantuk dan, tentu, menjadi jemu. Saya tak tahu berapa banyak orang yang masih terpikat untuk menjadi penemu lampu wasiat penggelontor harta.

© Ilustrasi: DQshrine