↻ Lama baca 2 menit ↬

ANEKA CARA BERPROMOSI. KALAU UNTUK PROMO BLOG?

Bel berbunyi. Saya masih tidur. Pagi sudah merambat siang. Saya bangun, menggeliat, lalu beranjak. Kunci tidak ada, entah di mana. Rumah kosong, pada pergi. Dari balik kaca saya cuma bilang kepada pemencet bel, “Maaf Mbak, saya ndak bisa keluar. Ada apa ya?”

Saya pikir dia orangnya tetangga yang belum saya kenali wajahnya. Mungkin dia diminta menyampaikan sesuatu. “Oh gini kok, Pak…” katanya, sambil merapat ke pintu pagar, tangannya memegang jeruji

Ini lanjutannya, “Cuma mau ngasih tau, besok ada demo masak di Ramayana Pondokgede, blablablabla, ada hadiahnya, anu anu anu anu lho, jadi silakan datang. Bilang ke Ibu ya, Pak…”

Bukan demo masak yang menyentak saya dalam seperlima kantuk. Tapi cara berkabar untuk acara di Ramayana yang seperti pemberitahuan dari pengurus RT itu. Setelah saya mengiyakan, dia menyeberang ke rumah depan dan lainnya. Mengabarkan hal yang sama.

Weh, ada promo cara anyar rupanya. Baru tapi tradisional. Lisan, personal, bukan dengan pengumuman berpengeras suara, tapi secara ketuk pintu dengan meninggalkan pesan. Partai politik lebih ahli dalam soal ini. Cerita seputar pemilu dan pilkada sudah membuktikan, sehingga muncul ungkapan “serangan fajar” pada hari pencoblosan.

Tapi untuk urusan dagang — dengan menganggap politik bukanlah dagang — baru kali ini saya temui. Yang lumrah adalah salesman menawarkan produk, langsung demo. Atau orang suruhan menjejalkan selebaran ke kotak surat dan teras — inilah junk mail generasi pertama.

Cara lama yang lain, juga mengandalkan mulut, adalah promosi film melalui mobil keliling. Waktu masih bocah saya menyebutnya “halo-halonya bioskop”. Halo-halo biskop, kata teman saya.

Ada saja cara berpromosi. Bisa seratus persen baru, bisa sekadar gabungan dari sejumlah kiat, bisa juga cuma cara lama yang dipertajam.

danone mengikat koran untuk promo yoghurtBeberapa waktu lalu gepokan koran pagi yang datang ke rumah sudah terikat pita karton. Isi pengikat adalah promo yoghurt Activia dari Danone, lengkap dengan kupon untuk mendapatkan sampel. Hanya pengikat, tanpa koran gratis, karena koran adalah urusan agen ganda.

Soal memanfaatkan agen koran sebagai penyebar pesan, itu cara lama. Serupa dengan penyisipan selebaran. Tapi mengemas pesan sebagai pengikat gepokan, setahu saya itu cara baru.

Itu serupa cara Koran Tempo yang membuat kantong (berisi koran) untuk dicantelkan di pintu kamar hotel setiap pagi. Jadi, selain dari siaran TV kamar, berita pagi didapat dari koran keren itu.

Tapi Anda jangan membayangkan welcome page (dengan kotak login) untuk layanan hotspot di hotel berisi daftar blog. Bisa marah para tamu. Di sana ketemu blog, di sini ada blog, di mana-mana diserbu blog. “Tidak! Tidaaaakkk! Tidaaaakkkk dak… dak… dak… dak… (pakai echo, fade out),” jerit si tamu.

promosi danone melalui pengikat koran melalui agen

Penutup yang tersensor:

“[Tat-tut-tit-tut]… Pagi, dari kamar 1919. Urgent. Saya tidak ada urusan sama guest relations apalagi security. Dengan segala pinta nan penuh hormat, saya mohon sambungkanlah saya ke general manager…[tat-tutttt-tit] Argghhhh… Good morning Mister Jee Em. I have a big problem… I found the internet access to be unsatisfactory as… ”

“Maaf Pak. Ini housekeeping, bukan GM… I-i-i-i… iya Pak, ini saya lagi on duty ceritanya… Waduh, situ kok mbagusi sih? Apa? Maaf? [tunggggggg. klek.] Halo? Halo?”