• Lama baca: 4 menit →

MESTINYA WARISAN KANTOR POS BERLANJUT KE BLOG.

kotak pos jakartaSaat masih bocah di Salatiga, yang ketika itu cuma sembilan kelurahan, saya menganggap kotak pos itu keren, mencerminkan penyewanya terpelajar dan modern.

Siapa penyewanya? Orang-orang asing. Maka saya pun membayangkan kalau sudah besar akan menyewa kotak pos. Snobisme yang ndesit, memang. Sama snobnya dengan membayangkan punya “alamat kawat”.

Ketika saya kuliah di Yogya, keinginan berkotak pos masih ada. Sayang, duit untuk menyewa belum ada. Ketika ada duit, kotak pos di Bulaksumur, Karangmalang, dan Demangan (Klitren Lor), sudah habis tersewakan. Hanya saja minat saya bukan didasari oleh snobisme wagu, melainkan kepraktisan dan privasi.

Waktu itu saya pikir alamat rumah tak perlu disebarkan, tapi kiriman bisa sampai. Untuk urus wesel honorarium tinggal pakai Kartu C7.

Tanpa itu, wesel harus dialamatkan ke kampus dan minta tanda tangan plus cap dari tata usaha. Artinya harus telaten menanya ke TU. Pernah wesel hampir kedaluwarsa karena orang TU tak mau memberitahu. Penyebabnya: saya bukan kalangan dekat.

Awal 90-an, ketika saya pindah dari Jakarta Barat ke Pondokgede, Jawa Barat, saya menanyakan soal kotak pos ke kantor pos. Jawabannya: sudah penuh.

Jawaban itu membuat saya geli terhadap diri sendiri. Buat apa memikirkan kotak pos toh banyak antaran yang memakai jasa kurir swasta? Bagi umumnya orang lebih penting safe deposit box di bank.

ruang kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

LEBAR DI DALAM. Bagian luar hanya deretan pintu kecil mirip rumah burung dara, tapi bagian dalam kotak pos berujung ke ruang surat. Jika kotak pos penuh maka selebihnya dimasukkan ke keranjang. Kalau keranjang penuh, penyewanya dipanggil.

Ingatan tentang kotak pos itu muncul ketika Sabtu lalu saya ke Kantor Pos Besar di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Sebagian besar dari 5.039 kotak pos itu masih terpakai.

Kotak-kotak itu menjadi pengisi dinding luar lantai dasar pentagon. Saya membatin, ingatan orang sekarang terhadap kotak pos hanya menyangkut alamat tujuan pengiriman lamaran kerja dan pengiriman kuis berhadiah. Oh ya, tambah: kirim pengaduan ke komisi ini dan itu maupun layanan konsumen.

Tapi bukankah lamaran sekarang cukup via e-mail dan layanan web, bahkan pelamar cukup menelepon untuk walk-in interview? Kuis pun cukup melalui SMS, kan?

Maka bisa dipahami jika sejak awal 2000-an kantor pos besar buka pada Sabtu dan Minggu. Dulu, pada hari libur pun banyak orang mengirimkan amplop besar cokelat ke sejumlah HRD.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

TERAS YANG SEPI. Hanya ada ribuan kotak pos, teras kotor, dan sedikit pelintas. Mau tidur silakan. Mau menikmati kegiatan pribadi juga tak ada yang mengusik.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

Kantor pos memang tergerus oleh zaman. Kurir swasta berbiak, layanan online kian kaya, sehingga wesel tinggal kenangan. Hanya penggemar filateli yang masih mendambakan lalu lintas pos yang tinggi — dengan catatan: amplop dan kartu pos tak ditera oleh mesin prangko.

Sering saya dapati halaman kantor pos kecil yang kurang terurus, bahkan bangunannya pun kurang terawat. Mungkin itu berhubungan dengan kekosongan bangunan sebelah yang merupakan rumah dinas.

kotak pos di kantor pos pasar baru jakarta

PERAWATAN. Engsel lepas dan kunci seret masih diurusi karena masih ada yang menyewa. Sampai kapan orang menyewa kotak di kantor pos?

Untuk sekian lama kantor pos adalah pengaya peradaban. Itulah lembaga yang, dalam keyakinan teman saya Putu Laxman Pendit, telah membiasakan orang untuk menulis agar dapat bertukar kabar.

Mungkin hulu sejarah pos adalah kebatinan atau telepati. Kemudian jalan yang dibangun untuk kepentingan perhubungan — bahkan dengan mengorbankan manusia. Lantas telegram dan radio (morse) mempercepat pengiriman dan penyebaran pesan.

Tapi warisan kantor pos, yaitu menulis surat, mestinya tak hanya berpindah media menjadi e-mail dan SMS. Tradisi berkabar itu bisa dilanjutkan ke blog. Bedanya yang ini beranah publik. Konsekuensinya juga berbeda. :)

Bonus: Kartu pos Luigi untuk Iman Brotoseno

NB: Yang mau ikut jalan-jalan murah dalam kota silakan tunjuk jari, tapi perginya tidak bareng saya :D

Pemilik BlogUmumMESTINYA WARISAN KANTOR POS BERLANJUT KE BLOG. Saat masih bocah di Salatiga, yang ketika itu cuma sembilan kelurahan, saya menganggap kotak pos itu keren, mencerminkan penyewanya terpelajar dan modern. Siapa penyewanya? Orang-orang asing. Maka saya pun membayangkan kalau sudah besar akan menyewa kotak pos. Snobisme yang ndesit, memang. Sama snobnya dengan...Suatu atau sebuah blog?