• Lama baca: 3 menit →

KEBEBALAN PARA JAGOAN BERMATA AWAS.

motor tanpa lampuBaiklah, saya percaya ada sejumlah orang yang mampu melihat dalam kegelapan.

Itulah sebabnya mereka jarang, atau tak pernah, menyalakan lampu kendaraannya, bahkan saat melaju di atas 40 km per jam — memboncengkan anak kecil pula.

Mereka bisa bermata hebat karena mungkin sering menyantap soto babat campur kawat dengan bumbu pengencer cat. Masalahnya, kalau mereka tak berlampu maka orang lain akan sulit melihat mereka. Beberapa kali saat menyeberang saya hampir tertabrak oleh orang-orang yang dikarunia mata awas itu.

Bukankah raungan knalpot bisa menjadi penanda kehadiran kendaraan (tepatnya: sepeda motor) tak berlampu?

Di tempat bising semua suara berbaur. Kendaraan tak berlampu yang melaju tiba-tiba nongol di depan hidung.

Bahaya serupa terjadi saat kita menyetir. Dalam spion tak tampak, tahu-tahu “grusaaakkkk! brukkk!” ada motor nyemplung ke got saat kita belok kiri, padahal 50 meter sebelum belok kita sudah menyalakan lampu sen.

motor tanpa lampu

Ya, ya, memang kadang ada saja mobil yang film kacanya terlalu gelap. Itulah sebabnya saya pernah membawa mobil seorang ibu ke bengkel. Film jendela samping yang 80% saya ganti 40%, sedangkan film kaca depan saya ganti dari 40% ke 20%. Aman dan sopan, sesuai adab sosial, wajah pengemudi masih terlihat dari luar.

Film kaca yang terlalu gelap — apalagi dari jenis abal-abal — bisa menghalangi pandangan. Pagar beton tak terlihat, patok besi tak tampak, apalagi motor tak berlampu.

Bagi saya, menampakkan diri dalam gelap itu perlu. Demi keselamatan. Dulu ketika masih kuat lari pagi, saya pilih sepatu yang bereflektor dan tak memakai kaos hitam. Jaket untuk pergi-pulang kerja pun berwarna terang agar saat menyeberang saya terlihat oleh pengendara.

motor tanpa lampu

Ketika masih sanggup bersepeda pagi atau malam hari, selain memasang CatEye halogen di depan saya juga memasang dua reflektor lengkung di setiap roda dan LED flasher di bawah sadel. Supaya terlihat. Agar tak tertabrak.

Alasan keamanan itulah yang saya sampaikan kepada bengkel film kaca 3M. Saya juga mengeluhkan banyaknya sepeda motor tak berlampu di pinggiran kota.

Tanggapan si nona kasir merangkap customer service? “Saya juga sering nggak pake lampu, Pak. Males aja. Hihihi…”

Malas? Hmmm. Tapi dari beberapa orang bermata awas — bukan bermata gelap — pemadaman lampu motor itu berhubungan dengan citra kejantanan, kejagoan, keberanian, dan sejenisnya. Jangan-jangan yang mereka maksudkan hanya satu kata: ketololan.

motor tanpa lampu memboncengkan anak dan istri

Pemilik BlogUmumKEBEBALAN PARA JAGOAN BERMATA AWAS. Baiklah, saya percaya ada sejumlah orang yang mampu melihat dalam kegelapan. Itulah sebabnya mereka jarang, atau tak pernah, menyalakan lampu kendaraannya, bahkan saat melaju di atas 40 km per jam -- memboncengkan anak kecil pula. Mereka bisa bermata hebat karena mungkin sering menyantap soto babat campur kawat...Suatu atau sebuah blog?