• Lama baca: 2 menit →

BUKU ENTENG, RENYAH, BERFAEDAH.

buku film haiDewi Alibasah (33), editor film, dulunya belajar tata boga di SMKK supaya tak berjumpa matematika. Kebetulan ibunya pintar masak. Kepintaran itu dipakai untuk menggalang dana. Untuk apa? Biaya produksi sanggar tari ibunya. Kok Dewi bisa jadi editor, apa hubungannya dengan masak dan tari? Bacalah Bikin Film, Kata 40 Pekerja Film! (ya, pakai tanda seru).

Adapun Cesa David (31), juga editor, karena kelamaan memotong-sambung gambar hasil syuting, akhirnya akrab dengan Lukman Sardi. Tapi ketika bertemu Lukman dia heran kenapa si aktor cuek. “Gue baru sadar, gue kenalnya di ruang editing!” (hal. 163)

Ada saja kisah lucu dalam buku enteng ini. Tak berpretensi menggurui, sekadar kemasan berbagi dari cerita 40 pekerja film, buku untuk remaja ini juga cocok untuk orang dewasa awam. Boleh untuk hadiah Natal dan atau Tahun Baru. ;)

Ke-40 narasumber itu mencakup produser, sutradara, penulis skenario, produser pelaksana, penata kamera, penata artistik, penata kostum dan penata rias, editor, penata suara, publisis, sampai penyelenggara festival.

Diangkat dari serangkaian diskusi terbatas, buku terbitan majalah remaja pria Hai ini menyodorkan ajakan apresiatif terhadap dunia film. Yah, ibaratnya, kalau semua orang kepingin jadi aktor dan aktris, lantas siapa yang bikin filmnya?

buku film hai

Cakupan garis besar pekerjaan setiap profesi ada dalam buku. Termasuk, tentu saja, tantangan dan kisah-kisah kocaknya. Astrid Ishak (27), penata kostum, pernah kebingungan karena belanjaan pernak-pernik untuk syuting masih tertitipkan di pasar swalayan. Ketika dia datangi tokonya sudah tutup karena kemalaman (hal. 139).

buku film hai

Sebagai sebuah apresiasi, buku yang terkemas rileks ini memang tak menukik sampai ke dasar. Biarlah itu jadi jatah buku lain — dan kursus dan sekolah dan diskusi; serta kalau memungkinkan tungguilah orang syuting. Setidaknya dari sini kita bisa menakar nasihat produser Mira Lesmana (43): jangan kasih skrip ke produser, cukup sinopsis saja, maksimal tiga halaman.

“Kalau ini memang karya lo, tolong hargai, dan simpan baik-baik. Jangan biasain ngasih-ngasih hasil kerja keras kita ke orang yang lo sebetulnya belum kenal,” begitu tip dari dia. (hal. 13)

JUDUL: Bikin Film, Kata 40 Pekerja Film! • PENULIS: Prima Rusdi • PENERBIT: Majalah Hai (Jakarta, 2007) • TEBAL: xii + 247 halaman • HARGA: Rp 55.000

Pemilik BlogLihat Baca DengarBUKU ENTENG, RENYAH, BERFAEDAH. Dewi Alibasah (33), editor film, dulunya belajar tata boga di SMKK supaya tak berjumpa matematika. Kebetulan ibunya pintar masak. Kepintaran itu dipakai untuk menggalang dana. Untuk apa? Biaya produksi sanggar tari ibunya. Kok Dewi bisa jadi editor, apa hubungannya dengan masak dan tari? Bacalah Bikin Film,...Suatu atau sebuah blog?