↻ Lama baca 2 menit ↬

TABLOID HIBURAN & SNOBISME KONSUMEN MEDIA.

tabloid xo“Wuih, yang jual cantik-cantik. Seksi. Pantatnya ditulisin ‘XO’. Aku ditawarin. Lima ribu (rupiah),” kata istri saya setibanya di rumah petang tadi.

Lalu dia berikan tabloid baru itu ke saya.

Sayang saya tak dapat membayangkan secantik dan seseksi apa para gadis penjaja nomor perdana di perempatan jalan. Padahal itu penting. Sangat penting.

Begitulah, satu lagi tabloid hiburan telah hadir. Namanya memang XO (Extreme Shot). Full color 32 halaman. Betul-betul berpesta gambar. Hans Miller Banureah, wartawan dan musisi yang menjadi pemimpin redaksi, dalam pengantar menyatakan perbandingan foto dan teks dalam tabloidnya adalah 70:30.

Bagi saya makin banyak media makin bagus. Biarlah pasar yang jadi hakim. Konsumen punya pilihan.

Tapi, ehm, terhadap media hiburan, memang ada saja suara miring. Dianggap cemen, tidak mencerdaskan.

tabloid xo jakarta

Bahkan dalam beberapa kasus, pekerja media hiburan ketika berhadapan dengan guru sekolah anak-anaknya tak sepede wartawan majalah berita dan koran serius — padahal gajinya (semoga) sama.

Dalam arisan keluarga pun (mungkin) pekerja media hiburan cuma jadi bahan gurauan karena hapal siapa saja aktris dan biduanita yang telah menjalani operasi payudara.

Lantas apa itu “mencerdaskan”? Bila rujukannya adalah jurnal, terutama ilmiah, mungkin media hiburan memang apel yang ketemu jeruk. Bukan untuk di(per)bandingkan.

Memang sih, media hiburan bisa jadi kajian “serius” di jurnal cultural studies — tapi pembaca telaahnya bukan konsumen tabloid weleh-weleh.

Bagi saya, setiap media mendatangkan manfaat — sepanjang sesuai dengan kepentingan pembacanya.

Bagi orang tertentu, Maia melompati pagar rumahnya itu tak penting; cuma urusan domestik yang kebetulan menyangkut pasangan tenar. Bagi orang lain (mungkin) juga tak penting, tapi menarik — dan layak gunjing.

Buat saya, pengetahuan umum bisa mencakup apa saja. Sejak tato di atas belah pantat Rency Milano (apanya Rensi Milna, ya?) sampai dinding air terjun temuan Institut Teknologi Massachussetts.

Yang menggelikan adalah tak sedikit orang menyumpahi tabloid hiburan dan tayangan “infotainment” di TV, tapi diam-diam mengikuti pergunjingan bintang hiburan di internet.

Membeli dan menenteng tabloid bergambar aktris janda muda dianggap tak sekeren menaruh Harvard Business Review atau koran oranye salmon Financial Times di meja kopi. Padahal ketika obrolan bisnis (pria) selesai, bukan tak mungkin topik menikung (sejenak) ke janda anyar segar itu.

“Mencerdaskan”? Uh. Jangan-jangan, secara kasuistis, istilah ini adalah bagian dari snobisme kaum (sok) terpelajar — termasuk saya. Sama seperti sebagian orang menyebut Karl Marx dan Tan Malaka dalam perbualan.