↻ Lama baca < 1 menit ↬

SEKELEBAT, PENTING TAK PENTING, NYAMBUNG GAK NYAMBUNG. SEPERTI BLOG. :D

tayangan tinjuDunia visual adalah yang tampak di mata. Bisa apa adanya, seperti yang mengelilingi kita. Bisa juga sudah terkemas sebagai foto terbingkai maupun sebagai gambar hidup dalam kotak menyala.

Apa yang tertayang seringkali tak penting. Gambar-gambar hidup itu adalah makhluk yang dibiarkan bermain sendiri. Memang kadang cuma pemutaran video, bukan siaran langsung. Yang penting ada gerak. Suara kadang dimatikan.

Oh, gambar yang bergerak. Dalam sebuah pentas musik di E-X Plaza, Jakarta, layar besar memampangkan siaran tinju, sementara penyanyinya meratapkan kerinduan dalam keriangan.

Di depan jejeran treadmill, di banyak tempat, layar TV juga berderet. Masing-masing menayangkan saluran yang berbeda. Dari “infotainment” tv lokal, Fashion TV, sampai CNN. Suaranya ditindas musik dari pengelola pusat kebugaran.

Jadi untuk apakah tayangan gambar hidup itu kalau TV LCD akhirnya tak beda dengan bingkai foto berisi salaman dengan pejabat?

Saya tak tahu. Mungkin memang tak perlu dipikirkan. Masalahnya bukan di ruang publik atau privat. Tapi lebih kepada kotak media yang sebaiknya menyala. Bisa berupa radio, bisa berwujud TV. Khusus untuk TV dalam kamar hotel maupun ruang keluarga, kalau sudah menyala tak mau mati.

Semuanya berkelebat. Bahkan jika durasinya panjang, mata kitalah yang menatapnya sekelebat. Hanya orang kuno dari zaman sedikit stasiun dan tanpa wireless remote controller yang menonton televisi sebagai ritus seperti di bioskop: dipersiapkan benar, penuh konsentrasi.