• Lama baca: 2 menit →

KALAU PASANG BECAK MALAH MENGADA-ADA.

protes warga pondok indah

Apakah jurnalisme bisa disebut mewakili kepentingan pembaca, termasuk kebutuhan akan gosip, gunjing-menggunjing, ngerasani? Dua foto, masing-masing dari Koran Tempo dan The Jakarta Post, ini bisa menjadi pintu diskusi.

Mungkin sedikit saja yang berkomentar bahwa itu adalah iklan gratis untuk Ford. Lantas di mana persoalannya?

Kalau cuma merujuk salah satu mobil, yaitu double cab, bisa saja kita bilang bahwa itu cuma montor kebon. Dengan maupun tanpa modifikasi, pikap itu bisa buat angkut sayur (organik) dan anturium mahal. Tapi dengan modifikasi keren yang tampak sebagai tunggangan saat senggang, rambu yang melarang angkutan barang bisa ditawar, dan Pak Polantas dan Pak Dishubwanto pura-pura tak melihat, lantas petugas satpam mal dan gedung perkantoran pun menenggang.

Persoalannya ada pada kelayakan berita yang, tentu saja, mencocokkan diri dengan selera khalayak. Pondok Indah (PI) adalah prominensi. Permukiman itu kadung tercitrakan elitis, untuk orang kaya (padahal tak semuanya). Ketika Pemda DKI bermusuhan dengan warga PI karena busway, maka bobot beritanya menjadi bertambah.

Dalam konteks itulah dua mobil Ford difoto dan diberitakan. Bisa saja muncul tudingan sirik bahwa warga PI menunjukkan keangkuhannya (bahasa media sekarang: arogansi), karena memasang mobil yang tak murah. Tambah tertuding kalau mereka memasang Humvee.

Tapi kalau mereka memasang becak, atau bendi, pasti bakal dikira mengada-ada. Kalau memasang deretan sepeda enteng yang sebuahnya belasan juta rupiah, malah akan segera hilang.

Repot juga jadi orang (yang dianggap) kaya, terutama jika menyangkut opini publik. Padahal hak setiap orang untuk menyatakan sikap, kan? Sutiyoso, dan kemudian Fauzi Bowo, paham betul cara menggalang opini publik ini: orang makmur harus mengalah.

Media, tepatnya orang-orang media, juga sangat paham soal opini publik. Dalam kasus PI yang menolak busway ini, mungkin ada media mendukung PI, mungkin pula meledek. Dalih paling aman: “Kami kan hanya melaporkan fakta, biarlah pembaca yang menilai.”

Bonus: kaos setengah pro, setengah antibusway :D

Pemilik BlogKomedi IndonesiaKALAU PASANG BECAK MALAH MENGADA-ADA. Apakah jurnalisme bisa disebut mewakili kepentingan pembaca, termasuk kebutuhan akan gosip, gunjing-menggunjing, ngerasani? Dua foto, masing-masing dari Koran Tempo dan The Jakarta Post, ini bisa menjadi pintu diskusi. Mungkin sedikit saja yang berkomentar bahwa itu adalah iklan gratis untuk Ford. Lantas di mana persoalannya? Kalau cuma...Suatu atau sebuah blog?