↻ Lama baca 2 menit ↬

KOCAK, NAKAL, SESEKALI SERIUS.

Buku Miund si Blogger Gokil

Namanya sungguh elok: Asmara Letizia Wreksono. Nama panggilannya gagah: Miund — mengingatkan saya kepada Bang Mi’un. Jika kelokan dan kegagahan digabung jadilah kelucuan.

Saya mengenal blognya, yang kemudian jadi buku ini, pada 2004. Bukan sebagai pembaca rutin sih. Kesan saya, si blogger itu adalah cewek urban, periang, kreatif, arah pikirannya sulit ditebak (mungkin juga sering macet kayak lalu-lintas Jakarta), easy gowing (biar dikoreksi dia karena nggak suka lelaki yang artikulasinya payah), dan impulsif.

Blognya dia tulis selancar ngoceh di telepon dan mungkin (eh, semoga) sengaco dia nyanyi di kamar mandi. Sepenuh hati, ringan, semaunya, zig-zag, orisinal. Setelah selesai mungkin rasanya selega pasca-ritus pagi hari di kamar kecil — misalnya dia rajin bangun pagi.

Sebagian tulisan blogger penggigit kuku ini memindahkan rumpian ringan dalam keseharian. Misalnya kalau PRT hamil, pembuahan dilakukan kapan dan di mana? (hal. 59-60), atau bekas bos, sang pendamba perhatian yang selalu memancing-mancing untuk ditanggap (hal. 22-29). Ada juga keterpukauan pada pandangan pertama ketika melihat Pak Polisi bertugas (hal. 11).

Tapi segokil-gokilnya dan sedodol-dodolnya seorang Asmunah, eh Asmiun, eh Asmara, yang pernah jadi korban Orbar Amputra*, ada saja hal yang menyentuh, bahkan mengundang permenungan.

Misalnya? Tante Miund yang sering dijauhi anak kecil, bahkan seorang ibu menjadikan sosok Miund sebagai alat untuk menakut-nakuti anaknya.

Ada lagi, yaitu sebuah gugatan diri tentang “emansipasi wanita”. Intinya: jangan melupakan “kodrat” sebagai ibu maupun istri . Ujung-ujungnya, menurut Miund, kalau wanita mengakrabi dunia domestiknya, dan rajin merawat diri, maka suami tak akan berpaling ke wanita lain yang lebih cantik, lebih muda.

Miund pun menyoal wanita-wanita yang hanya menuntut dari suaminya, “tanpa berkontribusi apa-apa secara fisik maupun mental…”

Jika itu terjadi, Miund bilang…

“Maka kita harus bersiap-siap suatu hari nanti penis suami kita tersebar melalui youtube dan ditertawakan perempuan-perempuan single sok tahu…” (hal. 124).

Duh Nak Miund, apa sesederhana itu persoalannya? Ada-ada saja. :D Maka izinkanlah saya mementahkan pencerahanmu, Nak. Kalau memang lakinya nakal (dan pemberani, eh nekat, eh ngawur), dan sedang kelibet entah apa, padahal penisnya kecil, ya tetap saja berselingkuh. :D Konon enak, sih. :P

Begitulah Miund. Tulisannya seperti pelangi yang tersusun dari sekumpulan permen. Enak dikunyah, tinggal dipilih.

Tapi dalam satu perkara, setidaknya sampai buku ini saya baca, dia sama polos dan udiknya dengan saya, karena menyimpan penasaran yang sama.

Soal apa? Siapa contoh sosok yang jadi responden (Nielsen?) untuk menentukan peringkat dan alat apa yang dipakai untuk mencatat perilaku bertelevisi mereka? Dia belum pernah ketemu orangnya, apalagi melihat alatnya.

Makanya saya nggak minder. Miund yang suka TV, dan bekerja di produksi TV, aja kagak ngatri apalagi saya. Ketemu responden angket koran dan majalah, saya pernah (bukan sebagai pemesan lho). Tapi ketemu responden untuk pemeringkatan, saya belum pernah.

Ketemu Miund? Belum. Tapi dia baik kok. Desainer grafis yang perajut dan tak berani potong rambut asimetris ini pernah kirim sampel kuenya ke saya untuk promosi. Sekarang dia mau ajak kopdar penggemar. Saya mau minta tanda tangan di buku yang saya beli sendiri.

JUDUL: Gokil! Sebuah Kompilasi Kedodolan • PENULIS: Miund • PENERBIT: Rahat Books, Jakarta (cetakan kedua**, Juni 2007) • TEBAL: x 222 halaman • HARGA: Rp 29.900

*) Ini idolanya Miund. Kalau Anda nggak kenal Orbar berarti kurang gaul.

**) Seingat saya (tolong dikoreksi), contoh buku di toko mencantumkan “cetakan ketiga”. Tapi buku terplastiki yang saya dapat ternyata “cetakan kedua”.girl movies blackmovie blockbuster rentalsshots body movieboys fun sex moviestranny brazilian moviesjob movie blow spears britneymovies vhs buy usedcaligula penthouse movie thecaning movies bottomsmovie cartoon69 clips