• Lama baca: 2 menit →

“AKU INGIN BEGINI, AKU INGIN BEGITU…” (NOBITA)

rubrik jodoh kompas K-803/09/07Ada pembaca yang menanya saya kenapa beberapa kali menulis soal rubrik jodoh. Inilah jawaban saya. Rubrik jodoh itu kadang menarik, terutama kalau halaman lain sudah selesai saya baca.

Di mana menariknya? Banyak. Salah satu hal adalah ini: rubrik jodoh, apalagi yang berfoto, adalah bentuk penawaran diri yang sopan tapi tak semua orang berani melakukannya.

Misalkan saya masih muda lagi lajang, dan belum laku (emang dagangan?), tampaknya saya tak berani menampilkan diri di rubrik jodoh. Bahwa saya akan mejeng di tempat lain, misalnya blog, album foto di web, layanan jaringan sosial, dengan nama asli — dan status jomblo — itu mungkin saja. Berharap apa salahnya, kan? Namanya juga upaya. Siapa tahu nyantol. When a date becomes a mate, itu temanya.

Soal lain yang menarik adalah preferensi. Lingkup pekerjaan calon idaman masih menjadi syarat. Mungkin ini sangat Indonesia, ada saja yang memasukkan kriteria “PNS/BUMN” dan “TNI/Polri”.

Sejauh saya tahu — jadi tolong Anda koreksi — jarang yang mengidamkan calon pasangan berprofesi musisi, disc jockey, manajer artis, sound engineer, master of ceremony, pelawak. Mungkin itu sudah tercakup dalam “wiraswasta”.

Dari segi kebiasaan, dulu yang sering muncul adalah yang tidak minum alkohol, tidak mengonsumsi narkoba, dan tidak suka berjudi. Beberapa tahun belakangan bertambah “tidak merokok”. Artinya kesehatan personal maupun sosial sudah diperhitungkan.

Kalau syarat seiman, penyayang, romantis, dan hahaha… humoris, itu standarlah. Sudah default. Namanya juga cari pasangan.

Soal lain? Untuk Kompas Minggu, beberapa bulan terakhir ini ada hal baru. Atau mungkin sudah lama, tapi terlewat dari perhatian saya. Apa? Ini dia… “menerima apa adanya”.

Entah maunya siapa (peserta atau editor?), yang jelas syarat itu selalu muncul.

Bisa saja tafsir gombal menyatakan begini. Yang butuh suami (atau istri) punya sejumlah syarat, tapi orang yang terincar haruslah menerima si pengincar secara, ya itu tadi, “apa adanya”.

*) Mohon maaf kepada pemilik wajah. Saya berani memuat repro di sini, dengan pengaburan, karena Kompas sudah memuatnya.

Pemilik BlogSelingan'AKU INGIN BEGINI, AKU INGIN BEGITU...' (NOBITA) Ada pembaca yang menanya saya kenapa beberapa kali menulis soal rubrik jodoh. Inilah jawaban saya. Rubrik jodoh itu kadang menarik, terutama kalau halaman lain sudah selesai saya baca. Di mana menariknya? Banyak. Salah satu hal adalah ini: rubrik jodoh, apalagi yang berfoto, adalah bentuk...Suatu atau sebuah blog?