↻ Lama baca < 1 menit ↬

Dingin kering malam kemarau di kota lereng gunung. Kudapat kabar lalu kudatangi rumah bidan di sebuah gang di kampung Klaseman. Aku punya keponakan. Lelaki. Barusan mbrojol dari perut ibunya.

Anak yang dulu selalu ngecès, sehingga setiap kuajak pergi selalu kucantelkan saputangan dengan peniti di bajunya, itu kini sudah bertambah dewasa.

Anak yang kuajak pergi ke rumah pacar dengan berbekal tas kresek berisi celana pengganti setelah ngompol, dan baju kering pengganti baju tertumpah cès, itu sekarang (tentu saja) sudah bisa mengurusi diri sendiri.

Anak yang saat kugendong pintar sekali melepaskan tali arloji sehingga sang penunjuk waktu itu jatuh dan raib itu sekarang terus mencoba menyiasati waktu: kapan bekerja, kapan bermain, kapan makan, kapan ngeblog, dan kapan menerima panggilan untuk menangani anjing sakit.

Anak yang dalam usia dini aku ajari hak tapi waktu itu mungkin masih bingung. Naik bus Salatiga-Kartasura, lalu Kartasura-Yogya, dia kubelikan karcis seharga dewasa, supaya duduk sendiri. Karcis aku cantelkan ke bajunya, supaya aku bisa berbantah dengan kondektur dan penumpang yang minta anak itu dipangku.

Bocah nggunung. Udara di atas kotanya jarang dilintasi pesawat. Di Yogya, di pelataran rumah keluargaku, dia panik lari kesana kemari saat ada pesawat DC-10 terbang rendah. Menenangkannya adalah prioritas. Mentertawainya adalah hiburan. Mengenang kekonyolan itu likuran tahun kemudian adalah tanda kasih seorang paman.

Menulis itu semua adalah penyakit orang tua dan orangtua: selalu merasa telah melakukan yang baik untuk yang muda. Kelak kamu akan mengalami. :D

Selamat ulang tahun, !

titot