↻ Lama baca 2 menit ↬

CARA YOGYA UNTUK MENGINGATKAN KHALAYAK.

affandi di jalan gejayan yogyakarta

Beritanya sih sudah lama. Sebagian Jalan Gejayan, Yogyakarta, berganti nama menjadi Jalan Affandi untuk mengenang sang pelukis besar. Yang saya telat tahu adalah pemasangan maklumat berupa gambar vektor yang dicetak di atas kertas foto, menutupi nama lama jalan, di depan Togamas.

Boleh juga. Selama ini penggantian nama jalan di banyak kota cukup dilakukan melalui pengumuman dan pemasangan papan nama baru. Selanjutnya biarlah sang waktu yang menggarap benak khalayak.

peta gejayan yogyakartaSejauh saya tahu (jadi bisa saja salah), penggantian nama ini hanya mencakup ruas sepanjang depan gardu PLN sebelah Auditorium RRI (batas Kota Yogya dan Kabupaten Sleman) hingga simpang jalan lingkar (Condongcatur) yang memang merupakan wilayah Sleman.

Adapun ruas sepanjang depan gardu PLN sampai pertigaan Jalan Adisucipto (Demangan) tetap bernama Jalan Gejayan karena merupakan wilayah Kota Yogya.

Saya kurang tahu dari mana asal muasal nama Gejayan. Dulu, akhir 70-an, ruas jalan itu rasanya hanya sampai Selokan Mataram. Bahkan sebagian papan nama toko antara IKIP sampai selokan ada yang menyebut diri beralamatkan di Jalan Mrican.

Pada awal 80-an, ketika Yogya memiliki bus kota (Kopata) sebagai pengganti Colt Kampus (dan ring road belum ada), tak semua bus kota sudi berputar hingga Condongcatur. Kawasan selewat titik putar berpohon beringin itu seolah menjadi terra incognita.

Begitu asingnya kawasan itu, sehingga nama salah satu dusunnya kurang dikenal lantaran ada nama yang sama dan lebih tenar, hanya saja letaknya jauh di selatan, di wilayah kota. Nama dusun itu adalah Sanggrahan.

Dulu di dusun itu — Sanggrahan yang Sleman — ada kebun semangka. Untuk mencapainya dari arah Pasar Demangan, ketika saya masih bocah, harus bersepeda melewati jalan berbatu karena setelah Asrama Realino ke arah utara tak ada jalan berasapal. Adapun di Sanggrahan yang lain, di selatan itu, konon beda semangkanya. Ndoro Bedhes lebih paham.

Lantas kenapa judul tulisan ini memakai nama “Pak Pendi”? Dulu tukang tambal ban di depan Museum Affandi menyebut sang maestro sebagai Pak Pendi.

© Peta: Mycityblogging Yogyakarta