• Lama baca: 3 menit →

DUNIA TAKSI: TAK HANYA PAYUNG TERTINGGAL.

lampu mahkota pada taksi

Taksi itu sama saja dengan angkot. Berpelat kuning, boleh ditumpangi siapa saja asal bayar. Bedanya, penumpang taksi boleh menentukan rute. Pada angkot, hanya pencarter yang boleh menentukan rute. Tapi anehnya, sopir angkot di Jabodetabek menyebut penumpangnya sebagai “sewa”. Sedangkan sopir taksi menyebut penumpangnya sebagai “tamu”, dan operator radio komunikasi taksi menyandikannya sebagai “tango mike“.

Perbedaan lain? Taksi kadang memberi suasana agak mempribadi. Sopirnya bisa jadi teman bicara. Tapi kadang ada juga sopir yang kebablasan. Misalnya, “Pak, di kompleks sebelah tuh ada langganan. Cewek, jemputnya malem, minta dianter ke diskotek anu blablabla… Pulangnya pagi, kadang siang, tapi dari hotel atau apartemen.”

Ada yang juga sopir yang agresif sekaligus kurang ajar, “Pulang kerja, Bos? Melem gini kalo mau ngilangin stres, saya bisa antar. Ada tempat baru, ceweknya oke. Ada amoynya. Cungkuok juga ada. Sono noh, Grogol terus lagi, deket Pluit. Gimana, Bos? Kita meluncur?”

Singkat kata, kalau mau panen gosip dan info aneh ambillah dari taksi. Misalnya tentang seorang pelanggan, wanita karier yang sering pulang mabuk dari kafe sehingga untuk masuk ke rumah menjelang subuh Pak Sopir pun harus memapahnya.

Di rumah itu, nun di dekat jalan tol di Jakarta Timur, si wanita hanya hidup bersama seorang wanita tua. Cocok untuk dikembangkan jadi fiksi, tapi lebih sensasional dari karya Eddy Suhendro yang difilmkan.

Pernah sekali saya naik taksi yang barusan menurunkan — tepatnya: mengusir — tiga penumpangnya (dua pria bule, satu wanita lokal). Alasannya, pria dan wanita yang duduk di belakang barusan melakukan “pekerjaan tiup” (silakan Anda Inggriskan).

Kok tahu? “Saya kan dengar suara ritsleting dibuka, Mas. Terus abis itu suara mulut lagi kerja.”

Saya cuma tertawa, “Oh mungkin buka tas, Bang.” Si sopir yakin itu bukan tas karena, “Saya kan nengok juga. Sialan! Jangan di mobil saya dong!”

blue bird taxi jakarta

Pagi ini dari sebuah taksi Blue Bird, saya ambil buletin Mutiara Biru edisi Januari-Februari 2007. Yang langsung saya cek adalah rubrik “Barket” (barang ketinggalan) di seluruh armada burung biru di seluruh Indonesia.

Di Bali Taksi, yang tertinggal misalnya VCD Ermy Kullit, kartu kredit Citibank, buku War and Peace, makanan anjing, dan sepasang sepatu merah.

Di Jakarta, yang tertinggal misalnya buku tabungan Bank Niaga, pakaian renang, sepatu wanita perak-hitam, kereta bayi, 65 lembar amplop kosong dalam dus, proposal Pemkab Pasaman Barat, dokumen Irjen Depdagri, buku anatomi fisiologi untuk perawat, dan cincin wanita.

Payung, ponsel, kamera, laptop? Selalu ada dalam daftar. Payung saya pernah tertinggal dan dikembalikan. Ponsel? Pernah, dan tak kembali.

Taksi adalah ruang bergerak yang seolah memberi rasa privat sehingga membuat penumpang terlena. Baguslah jika ada perusahaan taksi yang sebisa mungkin mengontrol barang-barang ketinggalan itu berikut penghargaan untuk sopirnya.

Dari buletin itu saya dapatkan profil yang bisa diolah menjadi berita kisah yang menyentuh minat insani untuk koran atau majalah. Tentang Ferry Anita (42), wanita yang menjadi sopir Golden Bird. Ketika masih menjadi orang kantoran dia selalu naik Blue Bird. Setelah berpisah dari suami, dan harus menghidupi dua anak, dia menyopiri taksi.

“Saya terus mengasah keterampilan bahasa Inggris dan selalu rajin berolahraga tenis lapangan seminggu sekali…” demikian dia dikutip.

Baca juga:
+ Taksi sebagai kamar tidur
+ Taksi sontoloyo
+ Taksi dan penyiar radio
+ Petisi Priyadi tentang taksi

© Foto mahkota taksi: Dayinta Sekar Pinasthika

Pemilik BlogUmumDUNIA TAKSI: TAK HANYA PAYUNG TERTINGGAL. Taksi itu sama saja dengan angkot. Berpelat kuning, boleh ditumpangi siapa saja asal bayar. Bedanya, penumpang taksi boleh menentukan rute. Pada angkot, hanya pencarter yang boleh menentukan rute. Tapi anehnya, sopir angkot di Jabodetabek menyebut penumpangnya sebagai 'sewa'. Sedangkan sopir taksi menyebut penumpangnya sebagai...Suatu atau sebuah blog?