• Lama baca: 2 menit →

KABAR BANJIR DARI RADIO LEBIH INTERAKTIF.

radio banjir

Mereka bertengger di atap. Keluarga itu tiga hari tak makan. Tak ada akses ke sana. Tolong. Pendengar melaporkan dan langsung diudarakan.

Terowongan Cawang menjadi kali. Jatiasih terendam. Di tengah kemacetan Angke ada penodongan. Radio mewartakan.

Sejak Jumat saya berkawan dengan radio. Meneruskan rutinitas hari-hari kering sebelumnya. Radio bisa didengar seperlunya, dengan disambi. Tapi jika perlu, siaran kudu disimak penuh konsentrasi.

Tanpa gambar, tapi entah kenapa teater benak meyakinkan bahwa semua itu nyata. Laporan “air setinggi dada” sudah cukup untuk menggambarkan keparahan banjir – padahal tak ada keterangan dada orang dewasa atau dada balita.

Radio yang terbiasa dengan berita, semisal Elshinta, Sonora, dan Trijaya, lancar melaporkan. Tapi ada juga stasiun lain yang kagok, kurang terbiasa dengan liputan, penyiarnya menganggap udaraan kabar sebagai teks. Pendengar diperlakukan sebagai pembaca yang bisa melongok paragraf sebelumnya. Kapan dan di mana peristiwa dilaporkan tak diulang dalam penutup, selain “… itulah tadi laporan dari Anu…”

(JaF sangat paham soal ini. Budhe Dena khatam soal beginian. Soal kekuatan [dan kelemahan] radio.)

Lantas saya menyetel TV. Di kantor maupun rumah. Tak semua tayangan saya dengar untuk kemudian saya lihat.

Saya menelepon sana-sini. Menanya via SMS. Memastikan rumah aman. Berharap rumah kawan tak bermusibah. Sabtu siang melaju di jalan tol, yang tumben lancar, tanpa curiga. Radio tak melaporkan – atau sudah melaporkan tapi tak saya dengar, karena godaan Rock Weekend di Kis FM sulit dilewatkan, demikian pula sepotong jazz rock eh rock jazz di CnJ. Tahu-tahu menemui jalan buntu. Terowongan ke arah Bogor dan TMII ditutup karena air sudah setinggi 1,6 meter.

Radio mewartakan. Jumat, Sabtu, Minggu, dan Senin dini hari ini. Kadang tak cocok dengan kebutuhan – tapi itu bukan kesalahan stasiunnya. Sempat terbayang ada layar LCD yang menyatu dengan GPS, tampakkan peta genangan real time, berikut pengaturan lalu lintasnya (dan Pak Ogah plus Kapak Merah), secara on demand.

Kemudian pada setiap orang muncullah seleksi. Meski mengalami, lama-lama berita banjir melelahkan – apalagi kalau via TV. Jumat malam, dalam hujan deras, Trijaya tetap bersetia jadwal, menyiarkan obrolan seks bersama Dokter Boyke Dian Nugraha. Topiknya adalah “tiga posisi ML paling nikmat”. Banjir sempat jadi gurauan. Kebanyakan penelepon adalah wanita.

Pemilik BlogUmumKABAR BANJIR DARI RADIO LEBIH INTERAKTIF. Mereka bertengger di atap. Keluarga itu tiga hari tak makan. Tak ada akses ke sana. Tolong. Pendengar melaporkan dan langsung diudarakan. Terowongan Cawang menjadi kali. Jatiasih terendam. Di tengah kemacetan Angke ada penodongan. Radio mewartakan. Sejak Jumat saya berkawan dengan radio. Meneruskan rutinitas hari-hari kering sebelumnya....Suatu atau sebuah blog?