↻ Lama baca 2 menit ↬

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?

Seperti saya dengar sebelumnya, korban kecelakaan lalu lintas itu langsung ditutupi koran. Penutupan dilakukan oleh orang sekitar. Kemarin dan hari ini radio mengudarakan lagi laporan pendengarnya tentang hal yang sama tapi berbeda tempat. Saya menyimpulkan pengendara motor dan pejalan kaki yang ditutupi koran itu sudah meninggal.

Kapan itu malah ada laporan yang deskriptif, yang bisa saya ringkas sebagai “darah menggenangi aspal, dan koran pun memerah basah”. Teater benak langsung mengaduk kepala saya. Pusing dan ngeri membayangkannya.

Saya pernah melihatnya kala melintasi Jalan Gatot Subroto. Tapi saya juga pernah mendengar, si pelapor via telepon (kasus lain) yang dicecar oleh penyiar itu enggan mendiskripsikan apa yang dilihatnya. Dia tak tega.

Tidak, tidak, tidak. Saya tak hendak bicara tentang jurnalisme radio. JaF Rane lebih tahu soal ini.

Saya cuma bingung karena tak memiliki panduan yang jelas dan terinci bagaimana menangani korban kecelakaan yang tak cukup diatasi dengan prosedur awal P3K.

Tak ada prosedur yang diajarkan selain menelepon polisi. Kalau pun ada, ajaran itu berasal dari tuturan sehari-hari, serta koran dan film.

Menelepon ambulans dari ponsel? Baru saya petik dari seseorang saya yang dua tahun lalu menabrak pemabuk pada dini hari di Jalan Panjang, Jakarta. Ambulans 118 datang, mengurus korban (tidak meninggal), mengantarkannya ke RS Fatmawati. Anak-anak muda awak ambulans itu tak meminta uang dari si penabrak.

Dulu sekali, sudah lama, oh ya 20 tahun lampau, ketika membaca berita koran tentang tabrakan kereta api, saya dibingungkan oleh satu hal. Boleh atau tidak boleh korban yang tergencet gerbong itu diberi minum padahal mereka sangat kehausan dalam panggangan mentari?

Warga sekitar rel yang tak tega langsung memberikan minuman untuk korban. Orang lainnya — saya lupa dia paramedis atau bukan — melarangnya. Itulah yang dilaporkan oleh koran.

Ketika Tragedi Bintaro terjadi, cara koran mengemas berita belum sekaya sekarang. Jika itu terjadi sekarang, ada kemungkinan tampilnya artikel ringkas yang memandu cara menolong korban kecelakaan berat selagi menunggu paramedis tiba.

Kalau saja polisi mengajarkan hal itu di sekolah-sekolah. Kalau saja ada lembaga-lembaga yang mau mengajari masyarakat. Kalau saja dan kalau saja… mungkin cara penanganan kita bisa lebih maju daripada menutupi jenazah dengan koran lalu menelepon polisi.

Saya tak tahu adakah cara praktis selain menutupi jasad dengan koran. Apapun itu, bagi saya merupakan sebuah bentuk kepedulian, termasuk peduli terhadap ketidaktahanan mata banyak orang ketika mendapati sesuatu yang mengerikan.

Tiba-tiba pikiran saya bercabang. Teringat bahu jalan tol yang mestinya untuk kepentingan darurat tapi sering dilintasi sopir yang tak sabar (halo Anthronic!). Teringat nomor darurat (112) sibuk melulu saat saya coba untuk mengontaknya via ponsel.