• Lama baca: 2 menit →

KITA SELALU MERASA PUNYA TIMBANGAN KETULUSAN. HANYA MERASA.

Saya mengamati perbincangan Nyonya Toko dan salesman. Ya, jujur saja, meski tak semuanya tertangkap telinga, saya nguping. Sedari tadi mereka lebih banyak bicara dagangan dan tagihan. Sesekali Tuan Toko nimbrung. Ada canda. Yah, dasar komunikasi bisnis adalah pertalian insani. Angka bukan segalanya.

ijal di pasar

Dari jauh saya mencoba menjepreti perbincangan itu. Tapi ehm, beberapa kali separuh kepala nongol, mengalangi lensa. Ketika orang-orang di pasar tak memedulikan saya — artinya aman buat saya — anak ini terus peduli. Rasa ingin tahunya menggiringkan langkah untuk menempel saya.

Ijal namanya. Usia sepuluh. Kelas empat SD. Kadang mencari uang saku dengan mengangkatkan belanjaan. Bapaknya punya warung sayur di situ, dengan jualan tetap kolang-kaling.

Ijal senang setiap kali saya menunjukkan hasil jepretan. Fotografi digital kadang membantu pengakraban. Sama seperti dulu ketika kita membawa kamera Polaroid untuk tunjukkan hasil instan.

Saya membatin, anak ini bisa jadi guide untuk mengubek kawasan. Dia kenal lingkungan dan diterima oleh sekitar. Sama seperti kita mengandalkan centeng demi kemudahan eksplorasi lingkungan.

Tapi, ah, saya tak ingin menyusuri lingkungan itu lebih jauh. Tak ada waktu. Belum ada kepentingan.

Apa? Kepentingan? Ya. Kita kadang terlalu tega untuk memanfaatkan orang lain, termasuk anak-anak. Pada titik itu saya malu. Sempat tebersit bagaimana jika anak-anak saya dimanfaatkan oleh orang lain, dalam pengertian yang manipulatif?

ijalKetulusan hanya bisa dirasakan oleh dua pihak. Tak ada timbangannya, tapi mencoba berjujur diri tentu ada baiknya. Satu pihak merasa tulus, tapi pihak lain melihatnya sebagai kemenangan dalam pencapaian tujuan, jelas bukan sesuatu yang setimbang.

Sebentar lagi sahur tiba. Saya bukan bagian dari yang berpuasa. Pagi ini, saat terbangun, saya memeriksa gambar dan menemukan Ijal. Lamunan saya berkelok bentur dalam labirin permenungan.

Maafkan saya, Jal. Terima kasih, Jal. Mestinya saya harus menjelaskan internet itu apa, blog itu apa, bukan cuma bilang fotomu akan muncul di komputer.

Selamat menuntaskan ibadah di bulan penuh berkah untuk Anda semua. Bagilah berkah itu untuk saya.

Pemilik BlogUmumKITA SELALU MERASA PUNYA TIMBANGAN KETULUSAN. HANYA MERASA. Saya mengamati perbincangan Nyonya Toko dan salesman. Ya, jujur saja, meski tak semuanya tertangkap telinga, saya nguping. Sedari tadi mereka lebih banyak bicara dagangan dan tagihan. Sesekali Tuan Toko nimbrung. Ada canda. Yah, dasar komunikasi bisnis adalah pertalian insani. Angka bukan segalanya. Dari...Suatu atau sebuah blog?