↻ Lama baca < 1 menit ↬

PENGAMBILAN KEPUTUSAN: SENI ATAU ILMU PASTI?

burung di rumah sayaTernyata saya bukan orang yang ramah dan menyenangkan. Setidaknya untuk burung emprit maupun gereja.

Saya tunggu mereka mendekat, mencloki di atas nomor rumah untuk beol, seperti biasanya. Tapi sampai setengah sembilan pagi, Ahad ini, mereka menjauh. Hanya bertengger di genteng dan kabel PLN yang tersambung ke rumah.

Duduk bersila di teras, cuma sarungan dan beroblong, yang saya lakukan hanya menunggu dan akhirnya menjepret sekenanya. Bukan hanya tidak (atau kurang) ramah, ternyata saya juga tak sabar.

Lantas saya pun teringat laporan Day, putri saya, tadi malam. Serial lama Taiko (Eiji Yoshikawa) sudah tamat dia baca. Saya ingat kesan pertama dia saat memulai baca novel epik atau roman sejarah ini.

Bagaimana jika seekor burung tidak mau berkicau?

Nobunaga menjawab: “Bunuh burung itu!”

Hideyoshi menjawab: “Buat burung itu ingin berkicau.”

Ieyasu menjawab: “Tunggu.”

Dia belum membaca Musashi. Biarlah sampai waktunya nanti tertarik dan sempat. Tapi dari Taiko, dia mendapatkan pelengkap dari game lawas strategi yang disukainya, tentang perang samurai.

Malam ini, ya tadi, saya tanya dia tentang apa yang dia petik dari kasus burung itu. Katanya, beda kepribadian beda cara menangani masalah. Lantas? “Orang yang nggak sabaran, brangasan, biasanya nggak bisa menyelesaikan masalah dengan baik.”

Saya tertawa. Dia juga.