Iklan ini sulit diinggriskan. Hanya orang Indonesia yang bisa tersenyum. Tentang pemanfaatan bahasa Indonesia untuk iklan, yang selalu saya ingat adalah “terus terang Philips terang terus”. Tata tipografis dalam desain dibuat tiga baris. Philips dengan ukuran lebih besar ada di baris kedua. Kalau soal judul posting ini, jawabannya adalah meracun madu saja.
Saya amati sekitar 10 menit, tak ada pejalan kaki yang menengok ke arah monitor besar untuk menayangkan iklan ini. Kalau pengemudi mobil yang masuk dan keluar Plaza Semanggi, Jakpus? Saya tak tahu karena wajah mereka tak terlihat. Oh, para pengendara mobil yang terjebak macet mungkin melihat sekilas ya? Entah. Media luar ruang ini rendah, tak […]
Itulah enaknya karya seni. Ada kaidah estetika yang boleh berbeda dari keyakinan umumnya orang, karena yang penting proses menggedor kesadaran telah berlangsung dan syukur jika berhasil. Masalahnya, untuk bilbor bolong di Jakarta Selatan ini saya ragu apakah oleh DKI dirancang sebagai proyek seni.
MARI MENYAMPAH SETELAH PEMILU USAI. Tak jauh dari resto masakan peranakan yang bertetangga dengan kedai steak, dan agak jauh dari sebuah hotel bagus, wanita itu tertidur pulas dalam pelukan hammock yang dikelilingi tanaman sehingga tak tampak dari jalanan. Ranjang gantung berbahan spanduk itu bertuliskan, “pencanangan gerakan…” dan “pembumian akhlak”. Ada pula tulisan “Grand Ballrom Hotel…” […]