Partai Anjing? Hwaduh…

Apakah para petinggi negeri tak mendengar maupun merasakan amarah dan kegelisahan rakyat?

▒ Lama baca < 1 menit
@beritajateng_tv Partai Anjing Resmi Dideklarasikan di Semarang, Bawa Satir Politik dan Gerakan Antikorupsi Partai Anjing, akronim dari “Antek-antek Bajingan”, resmi dideklarasikan di Semarang, Senin 29 Juni 2026. Inisiatornya, Eko Haryanto, menyebut gerakan ini sebagai satire politik untuk mengkritik maraknya korupsi dan kondisi tata kelola pemerintahan, bukan sebagai dukungan terhadap praktik korupsi. Melalui konsep, nama, dan simbol yang provokatif, Partai Anjing ingin mempermalukan koruptor lewat parodi sekaligus mengampanyekan politik yang bersih, transparan, akuntabel, dan berpihak kepada rakyat. Ke depan, kelompok ini berencana melengkapi identitas organisasi serta mengupayakan legalitas jika memungkinkan. #jateng #jawatengah #semarang #beritajateng #beritatiktok #jatenggayeng #information #pati ♬ original sound – Beritajateng.TV

Kasihan para anjing. Sudah jadi umpatan, masih dipakai untuk satire pula: Partai Anjing. Memang yang dimaksud orang Semarang ini anjing sebagai akronim Antek Bajingan — bukan antek asing maupun antek amsyong.

Saya merasa keadaan negeri ini makin gerah bukan hanya tersebab cuaca tetapi juga kekesalan orang di mana-mana. Ada yang mengungkapkan dengan tenang di media sosial, ada yang membuat konferensi, namun lebih banyak lagi yang disertai amarah dengan bumbu kata-kata sarkastis, termasuk melalui lagu. Anak-anak kecil mendengar dan dapat tertulari. Sumber masalah adalah pihak yang membuat orang dewasa, termasuk ibu-ibu, mengumpat.

View this post on Instagram

Saya tak tahu apakah para politikus partai, birokrat, aparat keamanan, hingga lingkar kekuasaan yang bersumbu ke Istana Kepresidenan merasakan kegelisahan rakyat, sampai kepala negara pun menjadi bahan olok-olok. Rakyat menghibur diri dengan cara mengejek petinggi negeri, termasuk mengejek tiga profesor yang memuji pidato presiden.

Apakah mereka, para penguasa, mendengar dan peduli? Ini bukan sekadar sikap menganggap enteng masalah ala Menteri Agraria dan Tata Ruang Nusron Wahid, politikus Golkar, bahwa jadi pejabat harus siap di-bully.

Tinggalkan Balasan