
Sambal pecel cap Bagindo dari Kediri, Jatim, ini enak. Ada sedia di mana-mana warung darat maupun daring. Tetapi saya pernah menemukan sambal berjenama sama, logonya berbeda, rasanya jauh dari setara.
Saya tak menyebut yang hanya mirip dan kalah pas di lidah itu palsu. Kenapa? Saya tak tahu, tepatnya belum mencari tahu, apakah Bagindo untuk pecel sudah terdaftar di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Yang pasti, sebagai produk pangan Bagindo terdaftar di BPOM.
Mangsud daripada saya, bisa saja Bagindo yang mirip itu tak merasa meniru apa pun. Jika benar demikian tentu harus saya hormati. Ini masalah hak bagi konsumen Bagindo versi lain untuk menikmati karena batas cita rasa lidahnya belum menggapai ke sana. Bukankah kita tiada wenang merampas kebahagiaan orang lain padahal kebahagiaan itu tak melanggar hukum dan tak merugikan masyarakat?
Akan tetapi jika kita menggembungkan pipi bukan tersebab meniup balon, kita hanya menahan ledakan tawa sambil menahan napas, tentulah itu hak kita belaka. Dahulu katak merasa dirinya raja, tampak mulia seperti nama aslinya saat balita, dalam berbusana upacara bak sultan zaman abad lama, akhirnya dirinya menyandang sebutan baginda.
Bagi para petaruh, yang tak hanya bermain saat ada laga sepak bola, tebakan ini bisa jadi bahan pembuang uang sial: dalam sebulan berapa kali sebutan baginda itu akan diucapkan oleh orang lain? Ini berbeda dari Bagindo yang sambal pecel karena senantiasa tersebutkan di warung oleh penjual dan pembeli. Bagindo yang berhadir nyata, tanpa rekayasa.

2 Comments
Baru tahu ada merek Bagindo ini, Bang Paman. Kapan2 coba ah.. Tempo hari juga beli bumbu kacang buatan Kediri, mereknya Sedep Mantep. Dimakan pakai nasi aja udah enak hehe
Betooollll. Sambel pecel yang enak buat makan sama nasi ya sedap