
Yang saya maksudkan “baru” dalam judul itu kantongnya, bukan sampahnya. Mestinya saya tulis kantong-sampah baru, yang jelas berbeda dari kantong sampah-baru. Namun itu kurang lumrah. Kalau kantong baru sampah? Eh, bukan soal bahasa yang akan saya bahas. Sore, di suatu pengkolan, saya melihat kantong plastik terlipat. Masih mulus.
Iseng, saya bukan lipatan itu. Dan terpampanglah teks dengan tiga abreviasi. Saya tahu itu kantong apa, biasanya untuk mewadahi kerukan endapan got, bagian dari proses pematusan. Dulu saat saya melihat tulisan “pematusan” (2023), seingat saya KBBI belum mengangkut kata tersebut menjadi lema.

Akan tetapi hingga kini saya tak hafal kepanjangan dari singkatan UPTD PJJS DBMSDA. Inilah deretan katanya jika ditulis lengkap: Unit Pelaksana Teknis Pengawasan Jalan Jembatan & Saluran Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air.
Oh nama itu, panjang nian. Bagus untuk cerdas cermat anak SD dan pegawai pemkot. Karena panjang, kata-kata tersebut perlu ditulis sebagai singkatan. Tak terhindarkan, abreviasi dalam bahasa Indonesia selalu banyak huruf P dan K karena kata jadian berpola awalan “pe” dan kadang akhiran “an”, serta “ke” dan “an”.

Maka jangan langsung menyalahkan militer, polisi, dan birokrat karena mereka gemar membuat akronim. Abreviasi itu penyingkatan kata menjadi huruf. Sedangkan akronim adalah penyingkatan suku kata sehingga menjadi kata, misalnya ponsel, siskamling, hankamnasrata, ipoleksosbud, Kemendikdasmen, Kemendikti Sainstek, dan seterusnya….
Eh maaf, ternyata saya tergelincir membahas bahasa. Padahal dalam paragraf pertama saya bilang tak akan membahas bahasa. Setelah kantong seukuran karung beras 15 kg itu saya buka dan saya foto, lalu saya apakan? Saya pinggirkan, lantas saya tinggal. Saya yakin akan ada orang yang memanfaatkannya.

Kok saya yakin? Kantong baru, besar pula, banyak yang mau. Apalagi sekarang kantong plastik naik harga. Suatu pagi saya pernah mewadahi tiga kantong sampah berukuran sedang dalam kantong jumbo untuk sampah.
Pemulung datang, mengeluarkan kantong-kantong, lalu menuangkan isinya ke dasar bak sampah, mengambili apa saja yang dia perlukan, untuk dia masukkan ke kantong jumbo.
Saat itu dalam perjalanan ke rumah saya melihat dari jauh seorang pria pemulung meninggalkan bak sampah saya sambil menggendong kantong plastik besar. Setiba di rumah, saya lihat dalam bak sampah, bahkan di luar bak, sampah berceceran.

Agak siang truk sampah datang, seorang awak bilang kepada temannya, dan terdengar dari teras saya, “Tumben sampah rumah ini berantakan.”
Saya keluar dan mengatakan, “Maaf Mas kalo berantakan, tadi sih nggak….” Dia menyergah, “Iya Pak kita tahu, ini pasti kerjaan pemulung.”
Akan tetapi cerita ini belum selesai karena saya punya pertanyaan: kenapa kantong baru bisa tergeletak di jalan? Masa sih terjatuh dari truk petugas? Kantong itu ada harganya lho. Bahkan misalnya gratis pun janganlah dibiarkan terbuang.
