
Kreatif, murah, fungsional. Demikian saya membatin saat melihat kap lampu dari potongan galon air minum di atas gerumbul tanaman pagar sebuah rumah di gang yang hanya cukup untuk satu mobil kecil. Maung Garuda bisa lewat tetapi repot kalau belok.

Senja kemarin lampu sudah menyala sehingga lebih menampak. Dari sisi bahan, galon bekas lebih murah, Rp20.000–Rp35.000, tergantung bahan. Bahan galon dari polikarbonat tentu lebih kuat daripada PET (polietilena tereftalat). Cara paling mudah adalah memanfaatkan galon yang ada di rumah, lalu membeli galon baru berikut isi.

Sebelumnya saya melihat galon bekas tanpa dipotong untuk kap lampu sebelah gardu jaga di pinggir kali. Posisi galon berdiri disangga tiang yang pucuknya dipasangi fiting bohlam. Galon menjadi tabung utuh, aman terhadap air hujan.

Sedangkan yang ini berposisi menggantung, potongan bahu dan leher (atau kepala?) dari galon menjadi tudung bohlam, dengan lubang menganga di bawahnya untuk membuang panas. Memang sih lampu LED tak seberapa panas.
Semangat swakriya atau do-it-yourself itu baik. Jika menyangkut barang bekas pakai berarti menunda jadi sampah.
