Ancaman terbuka juragan pempek untuk anak buah

Ada juga juragan lebay, semasa hidup bilang akan mengawasi pengkhianat dari akhirat, bahkan akan memburunya. Mengurusi bawahan hari ini saja belum efektif.

▒ Lama baca < 1 menit

Permintaan juragan pempek Gaby Jatiasih agar pelanggan melaporkan kecurangan pramusaji — Blogombal.com

Maklumat pada kertas yang dijepit akrilik ini biasa saja. Serupa tulisan pada bagian belakang mobil boks, dalam arti juragan melibatkan publik untuk mengawasi anak buahnya.

Apa saja yang termasuk kecurangan dalam warung pempek, saya tak mencari tahu. Intinya saya percaya kalau mengeluhkan layanan via telepon akan ditanggapi, dan juragan akan menimbang apakah yang saya laporkan termasuk kecurangan.

Stiker sopir ugal-ugalan — Blogombal.com
¬ Stiker untuk melaporkan sopir mobil boks ugal-ugalan yang dijual di Tokopedia.

Lalu? Pekan ini seorang pemimpin berpidato di depan para pengusaha, seumpama dirinya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa maka dari “atas” dia akan tetap mengawasi para orang kurang ajar yang mengkhianati Merah Putih. Bahkan dari “atas” dia akan memburu para pengkhianat.

Saya ingat canda seorang ibu kepada suaminya, kalau setelah si ibu meninggal dan suaminya kawin lagi maka almarhumah akan selalu datang dalam mimpi buruk suami dan istri barunya. Mereka akan diprimpèni, menurut bahasa Jawa.

Mungkin sang pemimpin cuma bergurau tersebab suka film horor dan dahulu gemar membaca majalah ihwal dunia gaib. Tetapi apakah itu guyon empan papan? Saat ini selagi masih hidup dan berkuasa saja dia tak mampu mengendalikan bawahan.

Permintaan juragan pempek Gaby Jatiasih agar pelanggan melaporkan kecurangan pramusaji — Blogombal.com

Okelah itu bukan lelucon yang menyerempet urusan eskatologis tetapi kalau mau mengancam sebaiknya yang nyata saja, sesuai situasi dan kondisi masyarakat hari ini. Masalah negeri ini sejak dulu adalah penegakan hukum, dan di atas itu adalah etika.

Meskipun demikian, sebagai lelucon isi pidato itu layak meme: “Kalau kalian kurang ajar, malam-malam aku akan turun nyari kau!”

Lebih wigati bagi dirinya mendengarkan keluhan dan amarah rakyat di media sosial. Memang sih hasil survei Polltracking Mei lalu, yang diumumkan awal Juni sebelum harga Pertamax naik, menyebutkan tingkat kepuasan publik terhadap diri sang pemimpin, dan wakilnya yang membuat komedi televisi semacam Lapor Pak!, mencapai 72,2 persen.

Seorang pemimpin mestinya juga mendengarkan suara populasi yang tidak puas. Sampel mereka ada di media sosial. Jangan cuma membaca sampai 50 buku politik per hari — kata seorang pemujanya demikian — tetapi tak mendengar amarah rakyat.

Tinggalkan Balasan