Fundamental ekonomi bagus apaan?

Rakyat kecil tak peduli data statistik dan infografik, mereka kesal dengan semua yang mereka alami.

▒ Lama baca < 1 menit

Fundamental ekonomi bagus apaan? — Blogombal.com

“Harga-harga naik. Ini anak-anak mau nerusin sekolah, yang SD mau masuk SMP, yang SMP mau masuk SMA, yang tamat SMK nggak tau bakal diterima kerja di mana,” kata Adnan Kanan siang tadi.

“Iya, berat ini. Semua, eh banyak orang, merasakan. Pengusaha yang kita anggap aman dan sejahtera aja mulai bingung, soalnya mikirin nasib karyawannya,” sahut Kamso hanya ngegongi, sekadar mengafirmasi.

“Pertamax juga naik hampir empat ribu (rupiah).”

“Naik tiga puluh persen lebih.”

“Oom Kam, itu pemerintah suka bilang fundamental ekonomi kuat, nggak perlu khawatir. Nyatanya kok gini, hidup rakyat tambah berat. Maksud fundamental apa?”

“Wah, saya ora mudhêng. Kayaknya sih nggak ada hubungannya dengan kaum fundamentalis.”

“Kaum fundamentalis itu sebenarnya siapa, Oom?”

“Tukang bangunan yang bikin fondamen rumah.”

“Jadi fundamental ekonomi yang dimaksud pejabat itu kira-kira apa ya?”

“Kata orang sekolahan berarti dasar kehidupan ekonomi negara. Ada pertumbuhan ekonomi, inflasi terkendali, dan nilai tukar rupiah ke dolar Amrik stabil. Kalo nggak salah gitu.”

“Oom, emang pertumbuhan ekonomi sekarang bagus? Adik saya kena PHK. Nyari kerja lagi susah. Makanya dia narik Gocar. Tiga orang yang nempatin kontrakan saya juga kena PHK. Inflasi terkendali gimana? Lantas rupiah kebanting. Ditambah BBM naik harga, fundamental apaan yang waras?”

“Wah, kita nanya pemerintah aja. Kita sama-sama nggak paham.”

“Gimana caranya nanya? Rakyat pada bikin video maki-maki aja nggak didengerin, Oom!”

“Berarti fundamental pejabat dan anggota DPR bagus. Mereka stabil. Pede abis. Makanya mereka cuekin rakyat. Kalo fundamental dapur MBGo dan koperasi desa merah padam saya nggak tau.”

“Kata kakek saya dulu, celakalah negara yang diurus pejabat yang dibenci rakyat dan mereka juga membenci rakyat, suka berlaku zalim, mengkhianati amanat, dan menutup diri dari rakyat.”

“Kita belum celaka, kan?”

One Comment

Tinggalkan Balasan