Impotensi rendah bagus, kenapa butuh obat?

Terhadap iklan programatik, saya mendua: kesal terhadap iklan yang mengganggu tapi tak tega mengebloknya.

▒ Lama baca 2 menit

Iklan obat kuat di CNN Indonesia — Blogombal.com

Iklan yang menyeruak di laman CNN Indonesia ini menarik bagi saya karena bahasanya, setelah itu topiknya. Tersebutkan dalam iklan: “Impotensi rendah? Lakukan ini…”. Impotensi berarti tidak berdaya. Kalau ketidakberdayaan rendah berarti lebih bagus daripada ketidakberdayaan tinggi. Ini seperti tingkat kemiskinan rendah lebih menyenangkan ketimbang kemiskinan tinggi.

Lalu saya klik pelajari lebih. Sampailah saya ke sebuah laman situs tak jelas, isinya video yang disensor. Ada wajah Dokter Boyke Dian Nugraha sedang membahas seks. Mungkin potongan video itu asal comot tanpa seizin si dokter. Boyke hanya muncul sebentar karena gambar berganti adegan seks pria dan perempuan.

Iklan obat kuat di CNN Indonesia — Blogombal.com

Kalau tabir setengah transparan gambar diklik, gambar akan menjadi jelas. Ya, itu jenis video yang di negeri paling permisif di luar negeri pun dilarang dipampangkan terbuka — tepatnya sebelum ada konten dewasa tanpa sensor di platform yang berisi topik umum milik Elon Musk.

Dalam laman itu disebutkan “lebih 780.000 orang Indonesia terbebas dari impotensi dengan metode ini,” disusul teks “hanya 30 detik sebelum tidur”. Lho mau tidur atau mau apa?

Jumlah 780.000 orang itu banyak atau sedikit? Taruh kata jumlah pria dewasa Indonesia adalah 99,4 juta jiwa. Maka jumlah pria yang terbebas dari impotensi sekitar 0,78 persen. Angka 780.000 orang itu lebih banyak daripada jumlah penduduk Denpasar, Bali, yang pada 2025 mencapai 680.700 jiwa, namun pada 2010 sempat 788.589 jiwa.

Iklan seputar afrodisiak memang aneh-aneh dan sering kali tidak edukatif. Istilah impotensi secara medis kurang diterima jika dibandingkan disfungsi ereksi. Dalam perbincangan awam, impotensi pria bisa berarti disfungsi ereksi maupun bisa ereksi namun durasi tak seperti diinginkan si pria (dan mungkin juga pasangannya).

Durasi pendek bisa dalam arti mogok di tengah pendakian dan dapat juga mencapai klimaks lebih lekas daripada yang diinginkan para pelaku.

Dalam laman yang mencatut Detik Health ada teks “diberitakan oleh media terpercaya” disusul sejumlah logo media. Ini jelas mengarang sesukanya.

Iklan programatik itu merepotkan? Eh, nanti dulu. Bagi penerbit media berita daring atau pembacanya? Beda orang beda pandangan. Saya pernah tahu, redaksi dan BOD sebuah situs berita memutuskan takkan memasang iklan programatik, tanpa peduli bisa difilter atau tidak, dengan alasan daripada bikin malu.

Lho, bukannya pembaca dapat mengaktifkan pemblokir iklan? Ya, tetapi saya tidak, karena tak tega terhadap media yang sangat butuh pemasukan dari iklan. Di sisi lain saya selalu kesal kalau mendapati situs dengan iklan berjejal, mana iklan sembulannya tak langsung pasif pula, meminta pembaca menunggu sampai tiba beroleh reward.

Ya, terhadap iklan di situs berita sikap saya mendua. Kesal sekaligus memaklumi. Orang media punya jawaban, “Kalo nggak mau liat iklan ya bayar buat baca berita.” Atau mungkin ditambahi nasihat, “Makanya rajin menghapus kuki dan sebangsanya.”

Tinggalkan Balasan