Fungsi komisaris BUMN itu apa, Pak?

Jangan percaya gibah bahwa kendati kompeni rugi, bonus dan fasiltas buat direksi dan komisaris tetap ada.

▒ Lama baca < 1 menit

Pak Kumis jadi komisaris — Blogombal.com

Saat rehat siang, yang oleh tukang Jawa disebut rolasan atau lautan, Lik Manto Mantul menanya Kamso, “Pak Kam, bedanya komisaris ama direksi itu apa?”

“Mereka sama-sama boleh punya kumis, eh komis, kalo mau kelimis juga boleh,” jawab Kamso.

“Jangan guyon teruslah, Pak. Hehehehe…”

“Direksi isinya direktur. Tugasnya menjalankan perusahan supaya untung. Komisaris, isinya lebih dari satu orang, tugasnya ngawasi.”

“Gedean mana gajinya, Pak?”

“Mungkin gede direksi. Kalo bayaran buat komisaris ada yang nyebut honor, artinya uang kehormatan, balas jasa.”

“Itungannya gimana?”

“Saya nggak tau. Tapi di salah satu BUMN dulu ada yang kabarnya sih, pake rumus gaji dirut 100 persen, wakil dirut 95 persen, direktur lain 85 persen. Tapi itu dulu, lagian nggak semua BUMN.”

“Kalo komisaris, Pak?”

“Honor komisaris utama mungkin 45 persen dari dirut, lalu wakilnya 42 persen, nah komisaris lainnya mungkin nggak sampe 40 persen. Mungkin lho…”

“Berarti kalo bayaran paling rendah komisaris itu Rp100 juta sebulan, berapa gaji dirut?”

“Wah harus pake kalkulator, Lik.”

“Lah katanya pake apa itu, a-i eh é-ai di hape, bisa?”

“Males ngitung, Lik.”

“Dapet mobil dinas, rumah dinas, bensin, listrik, air nggak bayar. Sopir dan satpam dibayarin kantor. Tol juga. Saya kan pernah ikut proyek renovasi rumah komisaris. Enak ya, Pak? Perusahaan untung atau tekor tetep enak.”

“Kalo rugi mestinya nggak dapet bonus, dulu namanya kalo nggak salah tantiem. Kalo di pabrik gula ada duit icip-icip. Yang pasti dewan komisaris bisa mecat dirut dan direktur lain. Nggak bisa sebaliknya.”

“Syarat jadi komisaris gimana?”

“Mungkin buka lowongan di FB atau TikTok lalu diundi, nggak pake lotre gulung, tapi pake hape, diacak.”

“Hahahaha… Saya liat di hape kok katanya komisaris BUMN diisi orang partai, relawan, bahkan diisi wakil menteri, padahal katanya dilarang peraturan merangkap jabatan. Lalu relawan kok nyari imbalan. Mereka gabut apa ya?”

“Husss. Jangan gitu. Saya juga nggak paham. Mending Lik Manto mikir urusan bawah, koperasi desa merah padam, eh merah meriah…”

“Lha saya kan kerja di Jakarta, Pak. Ngontrak di Kalimalang. KTP masih Karanganyar. Pulang cuma beberapa bulan sekali. Mana ada urusan saya sama koperasi? Tapi di desa saya dari dulu udah ada koperasi, mosok mau ditambah? Atau bakal dihapus?”

“Nah, Lik Manto pulang kampung aja, daftar jadi komisaris koperasi, namanya pengawas, buat ngawasi direksi yang disebut pengurus.”

Mboten mawon, Pak. Entar malah harus nanggung utang koperasi, lalu masuk sel!”

“Ati-ati kalo bicara, Lik.”

Tinggalkan Balasan