Jamu sari rapet dan edukasi kesehatan reproduksi

Entahlah apakah benar-benar cespleng bin mustajab sepenuh faedah. Dokter yang lebih paham.

▒ Lama baca < 1 menit

Kontroversi sari rapet — Blogombal.com

Maaf jika Anda jengah membaca pos ini. Saya tak akan berceramah karena ginekolog lebih otoritatif. Masalahnya jamu dalam kemasan kaplet ini terpajang pada rak obat bebas (OTC, over-the-counter) di minimarket, bersama obat batuk dan pilek. Artinya bisa dilihat semua orang.

Kontroversi sari rapet — Blogombal.com

Maksud saya, karena dilihat banyak orang apakah isu seputar mukus organ reproduksi dipahami semua orang, terutama perempuan? Memang jamu rapet wangi atau sari rapet mencantumkan kata “berlebihan”. Namun dokter yang lebih paham pengertian berlebihan.

Di sisi lain ada jamu untuk, maaf, membuat kêsêt (bukan kèsèt) artinya tidak seret namun juga tidak licin. Tetapi kenapa ada lubrikan atau pelincir untuk mencegah iritasi? Saya tak tahu apakah pemahaman terhadap masalah itu bertaut dengan kultur. Antropolog lebih paham. Lagi-lagi mohon maaf, ungkapan Barat mengenal juicy, padanan Indonesia untuk hal ini saya jengah menuliskannya.

Buah kepel dipercaya menjadikan urine wangi — Blogombal.com
¬ Buah kepel dipercaya menjadikan urine wangi, konon favorit putri keraton. Klik gambar untuk membaca arsip.

Adapun istilah rapet, bahasa Jawa untuk rapat, bisa dijelaskan oleh yang lebih ahli dan berwenang, misalnya yang menyangkut otot Kegel di dasar panggul. Yah, memang ada tiga nama pria dalam organ reproduksi: Arnold Henry Kegel, Caspar Bartholin, dan Ernst Gräfenberg. Nama yang terakhir juga dikenal sebagai pengembang awal IUD.

Tinggalkan Balasan