Kios berjalan, berjualan mainan, dan persoalan jurnalistik

Isi blog ini tak beda dari orang kirim foto ke WA, tapi teksnya lebih dari tujuh kata. Subjektif, personal, boleh tak Anda percayai.

▒ Lama baca 2 menit

Penjual keliling mainan di Chandra Baru, dekat Masjid Al Huda, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Jumat, dua hari lalu, pukul 11.33, orang-orang mulai mendatangi masjid. Sekira 40 meter dari pagar masjid, penjual keliling, dengan gerobak kayuh, berteduh di samping tembok yang menghadap ke selatan. Itu tembok samping sebuah rumah dua lantai. Mentari sedang di utara khatulistiwa, sehingga penjual itu bisa berteduh.

Yang saya tuturkan itu fakta. Apakah dia akan sungkan misalnya berteduh di bawah pohon palma, mirip pohon kurma, di depan masjid? Itu pertanyaan berbau dugaan. Maaf, saya langsung membandingkan dengan penjual lain yang kadang ikut salat Jumat.

Saya juga teringat tukang langganan saya, yang menghentikan pekerjaan saat azan Jumat berkumandang, lalu meneruskan pekerjaan setelah orang-orang pulang dari masjid. Alasannya, “Saya sungkan, orang pada Jumatan kok saya masih di genteng.”

Penjual keliling mainan di Chandra Baru, dekat Masjid Al Huda, Jatirahayu, Pondokmelati, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Oh, ke mana arah cerita saya? Baiklah, saya mundur ke awal. Tentang penjual mainan tadi. Tak ada yang dapat saya ceritakan. Saya tak tahu namanya, sudah berapa tahun berjualan, berkeliling ke mana saja, betapa rata-rata harga jualannya, lalu apa yang paling laris, di mana dia tinggal, jam berapa dia berangkat dan pulang, dan seterusnya.

Kalau saya akan membuat tulisan jurnalistik, sebelum mewawancarai dia saya harus minta persetujuannya, dan sebelumnya lagi saya harus memperkenalkan diri, menyebutkan nama blog, alamat URL, dan seterusnya. Tetapi kalau dia hanya tahu TikTok dan YouTube bagaimana, karena blog bahkan situs web adalah dunia kemarin? Ya piyé manèh. Proses kerja jurnalistik memang tak mudah.

Penjual mainan — Blogombal.com
¬ Tentang penjual mainan, antara lain berupa toko darurat (2026). Jelas, ini bukan laporan jurnalistik. Klik gambar untuk membaca arsip.

Meski sering membuat pos tentang apa saya jumpai di luar rumah, saya tak merasa melakukan kegiatan jurnalistik atas nama jurnalisme warga. Yang saya buat tak lebih dari cerita turistik: memotret lalu menuangkan kesan dan tafsir. Sangat subjektif. Selalu personal.

Subjektif, karena berdasarkan sudut pandang dan tafsiran saya. Personal, hanya berpijak pada apa yang alami, berikut apa yang saya rasakan. Itulah warna blog saya. Cuma catatan pribadi. Subjektif dan personal itu sering bercampur.

Penjual mainan — Blogombal.com
¬ Tentang penjual mainan, termasuk uang mainan (2022). Cuma berisi opini saya. Klik gambar untuk membaca arsip.

Bandingkanlah dengan aneka video kuliner di Instagram, TikTok, dan YouTube. Memang ada unsur personal, misalnya mengatakan enak dan bikin nagih, tetapi gambar dan tuturan si vlogger jelas menunjukkan wajah penjual, penyebutan namanya, antrean yang mengular, lokasinya, dan harganya. Si penjual tahu bahwa diri dan bisnisnya akan disiarkan, dikontenin.

Jika ditambahi teks dalam video kapan, di mana, bukan cuma mengandalkan tanggal dan jam unggahan, makin lengkaplah informasinya sebagai katakanlah produk jurnalisme warga.

View this post on Instagram

Tak hanya dalam video kuliner. Laporan lalu lintas warga, berupa foto dan video, juga merupakan informasi yang newsy, memberita. Bahkan organisasi pemberitaan sering merujuk media sosial, ironisnya mereka juga bisa kesal terhadap media sosial karena tersaingi.

Jadi, blog wagu ini sebenarnya apa? Seperti awal mula blog dikenal: web log yang menjadi weblog adalah jurnal personal.

Berarti blog ini nggak moved on, dan terus saja nggak move on? Memang.

Foto berita tunggal penjual roti di kolong jalan tol - Kompas — Blogombal.com
¬ Kliping terpotong foto berita tunggal penjual roti di kolong jalan tol (Kompas, Selasa 19/5/2026). Unsur beritanya jelas. Meskipun long shot, nama penjual (who) disebutkan. Lihat salinan kapsi di bawah.

Kapsi foto:
Yono, penjual roti keliling, beristirahat di kolong Jalan Tol Cibitung-Cilincing di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (18/5/2026). Sektor produksi kecil yang bergantung pada harga pangan yang masih diimpor, yakni gandum, semakin terdampak saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Kompas / Agus Susanto


Mengapa pelat nomor kendaraan tak disensor padahal menyangkut perlindungan data? Untuk diskusi lain kali perihal foto jurnalistik.

Tinggalkan Balasan