Apakah presiden mendengar keluhan rakyat?

Sungguh memprihatinkan negeri ini: elite politik tak peduli rakyat, hanya ingin menyelamatkan partai dan kelompoknya.

▒ Lama baca 2 menit
Berita Kompas tentang ekonomi rakyat di bawah Prabowo — Blogombal.com
¬ Cukup membaca judulnya saja, para elite politik republik ini mestinya sadar.

Contoh dua berita koran Kompas hari ini (Jumat, 22/5/2026) untuk pos ini sebenarnya tidak relevan.

Tanpa warta dari organisasi pemberitaan apa pun sebenarnya semua orang merasakan sikap dan perilaku para elite politik: tak peduli rakyat. Mereka asyik dengan impian masing-masing. Begitu ada informasi rekrutmen proyek pemerintah, partai menggerakkan kader untuk mendaftar.

Citra Kompas selama ini santun, berhati-hati, dalam mengkritik pemerintah. Koran tua itu mengutip Septiana, seorang ibu rumah tangga di Bandar Lampung:

“Kalau lagi bokek di akhir bulan seperti ini, kita pilih lauk telur, tempe, atau tahu. Sekarang pun ukuran tempe dan tahu jadi semakin tipis. […] Kalau sekarang lihat sisa saldo dulu di rekening, kira-kira masih cukup enggak sampai akhir bulan.”

Kritik Kompas tentang wakil rakyat, soal usang sih — Blogombal.com
¬ Sebenarnya ini topik usang, ketika menjadi berita panjang hari ini terasa wagu. Mantra wakil rakyat tetap 5D (datang, duduk, dengar, diam, duit)

Yang paling mengesalkan adalah poli-tikus dan partai. Parlemen dikuasai koalisi pendukung yang selalu membenarkan Bowo. PDIP beroleh kursi terbanyak, tetapi akan kerdil jika menghadapi koalisi pro-pemerintah, maka… ya cuma gitu deh.

Saya berprasangka para poli-tikus bersembunyi di balik Kata-kata mutiara buatan sendiri namun berlaku kolektif: daripada Indonesia terpecah belah, yang penting kita semua solid bin kompak, jangan sampai dimanfaatkan antek-antek Asing. Kita itu mereka. Namanya juga prasangka.

¬ Komposisi anggota DPR. Pemerintah tak punya oposisi. © Wikimedia Commons.

Banteng ingin menjaga hubungan baik dengan Bowo. Tak seperti dulu sampai baper saat menghadapi SBY. Kekesalan pribadi pemimpin menjadi kekesalan kolektif partai.

Komposisi anggota MPR — Blogombal.com
¬ Komposisi anggota MPR yang terdiri atas anggota DPR dan DPRD (non-partisan, ram mewakili partai). © Wikimedia Commons.

Tentang DPD, yang disebut kehilangan taji, Kompas menulis:

Lembaga negara ini, misalnya, tak terlihat ketegasannya ketika dana transfer daerah dipangkas oleh pemerintahan Prabowo yang membuat sulit kerja pemerintah daerah. Padahal, DPD dibentuk untuk memperkuat representasi daerah dalam sistem parlemen dan memastikan keseimbangan pembangunan antara pusat dan daerah.

Kembali ke paragraf pertama di atas, tak usah menengok media berita tetapi lihatlah konten di media sosial, termasuk yang menyebar ke grup-grup WhatsApp. Bahkan grup keluarga pun ikut menampung meme politik, dari yang keluhan dengan humor sampai yang sarkastis. Di antara warga grup ada yang dalam pilpres lalu merasa salah pilih lalu getun.

Presiden Prabowo terasingkan dari aneka informasi? — Blogombal.com

¬ Laporan Project Multatuli, bukan media tunawisma (homeless media). Klik gambar untuk membaca arsip.

Pertanyaan saya memang naif: apakah presiden mendengar keluhan rakyat? Setelah mendengar lalu bagaimana? Saya hanya bertanya, tak punya jawaban.

View this post on Instagram

One Comment

Junianto Jumat 22 Mei 2026 ~ 21.50 Reply

Apakah presiden mendengar keluhan rakyat? Pasti! Dengarkan saja pidato-pidatonya yang menyinggung rakyat.

Tinggalkan Balasan