
Contoh dua berita koran Kompas hari ini (Jumat, 22/5/2026) untuk pos ini sebenarnya tidak relevan.
Tanpa warta dari organisasi pemberitaan apa pun sebenarnya semua orang merasakan sikap dan perilaku para elite politik: tak peduli rakyat. Mereka asyik dengan impian masing-masing. Begitu ada informasi rekrutmen proyek pemerintah, partai menggerakkan kader untuk mendaftar.
Citra Kompas selama ini santun, berhati-hati, dalam mengkritik pemerintah. Koran tua itu mengutip Septiana, seorang ibu rumah tangga di Bandar Lampung:
“Kalau lagi bokek di akhir bulan seperti ini, kita pilih lauk telur, tempe, atau tahu. Sekarang pun ukuran tempe dan tahu jadi semakin tipis. […] Kalau sekarang lihat sisa saldo dulu di rekening, kira-kira masih cukup enggak sampai akhir bulan.”

Yang paling mengesalkan adalah poli-tikus dan partai. Parlemen dikuasai koalisi pendukung yang selalu membenarkan Bowo. PDIP beroleh kursi terbanyak, tetapi akan kerdil jika menghadapi koalisi pro-pemerintah, maka… ya cuma gitu deh.
Saya berprasangka para poli-tikus bersembunyi di balik Kata-kata mutiara buatan sendiri namun berlaku kolektif: daripada Indonesia terpecah belah, yang penting kita semua solid bin kompak, jangan sampai dimanfaatkan antek-antek Asing. Kita itu mereka. Namanya juga prasangka.

Banteng ingin menjaga hubungan baik dengan Bowo. Tak seperti dulu sampai baper saat menghadapi SBY. Kekesalan pribadi pemimpin menjadi kekesalan kolektif partai.

Tentang DPD, yang disebut kehilangan taji, Kompas menulis:
Lembaga negara ini, misalnya, tak terlihat ketegasannya ketika dana transfer daerah dipangkas oleh pemerintahan Prabowo yang membuat sulit kerja pemerintah daerah. Padahal, DPD dibentuk untuk memperkuat representasi daerah dalam sistem parlemen dan memastikan keseimbangan pembangunan antara pusat dan daerah.
Kembali ke paragraf pertama di atas, tak usah menengok media berita tetapi lihatlah konten di media sosial, termasuk yang menyebar ke grup-grup WhatsApp. Bahkan grup keluarga pun ikut menampung meme politik, dari yang keluhan dengan humor sampai yang sarkastis. Di antara warga grup ada yang dalam pilpres lalu merasa salah pilih lalu getun.
¬ Laporan Project Multatuli, bukan media tunawisma (homeless media). Klik gambar untuk membaca arsip.
Pertanyaan saya memang naif: apakah presiden mendengar keluhan rakyat? Setelah mendengar lalu bagaimana? Saya hanya bertanya, tak punya jawaban.


One Comment
Apakah presiden mendengar keluhan rakyat? Pasti! Dengarkan saja pidato-pidatonya yang menyinggung rakyat.