
Tadi hujan deras, setelah selesai makan saya masih berteduh di warung. Iseng saya memperhatikan uba-rampé, istilah Jawa untuk perlengkapan, yang berguna saat menyantap mi ayam. Ada satu yang menarik: tutup botol kecap. Ada stik tertancapkan di situ.
Saya amati ternyata itu bukan stik pejal yang tak bergeronggang melainkan pembuluh. Ya, sedotan minuman. Si pemilik warung ingin pembeli lancar dalam meneteskan kecap. Kalau lancar banget berarti menuangkan, bukan?

Kreativitas warung ini mengingatkan saya pada kedai bebek goreng Mas Budi. Sendok untuk panci sambal sengaja dibengkokkan agar sendok tidak tergelincir ke dasar panci lalu terendam sambal.

Hal macam ini, yang bertolak dari solusi warung, mestinya menjadi masukan bagi desainer industrial untuk merancang barang rumah tangga. Lalu apakah sedotan botol kecap ini sudah saya coba? Belum, karena saya tak memesan mi ayam, sementara nasi dan lauk yang saya pesan tak membutuhkan kecap. Saya berlaukkan pindang bandeng, sudah manis, yang terpisah dari nasi, ditambah oseng-oseng labu siam plus oncom dengan leunca (Solanum nigrum).
Saya juga tak memastikan itu botol kecap asin ataukah kecap manis. Yang manis lebih kental. Mungkin hanya di Indonesia (Jawa?) ada kecap manis.
