
Salah satu berita lucu pekan ini adalah Ahmad Dedi, pejabat Ditjen Bea Cukai (DJBC), lari menghindari wartawan usai diperiksa sebagai saksi kasus korupsi di kantor KPK, Jakarta. Usia Dedi sekitar 50-an, masih bisa berlari, berarti dia bugar.
Dedi adalah pegawai fungsional madya di DJBC. Dia pernah menjadi Kepala Kepabeanan dan Cukai Jaktim. Sejauh ini dia masih sebagai saksi. Lalu kenapa dia sampai berlari, atau kabur dari cegatan wartawan?
Sebenarnya setiap orang berhak tak menjawab pertanyaan wartawan. Jurnalis bukanlah penyidik, maupun jaksa dan hakim, yang berwenang memaksa orang menjawab. Maka Dedi bisa saja diam, sambil merengut maupun cengengesan, saat dikerumuni wartawan. Saya berpengandaian dia bisa minta bantuan satpam untuk dikawal sampai sopirnya menjemput, misalnya di depan lobi. Tentu, Dedi juga boleh ngoceh semaunya. Sekalian berswafoto bersama wartawan juga boleh.
Saya tak tahu bagaimana Dedi menjelaskan soal pelariannya kepada keluarga maupun sejawat. Adakah yang tak tertawa, termasuk dirinya?
Ada satu hal yang saya syukuri saat Dedi menghambur ke jalan: tak ada orang jahat yang meneriaki dia maling atau jambret. Memang sih, dari sisi penampilan dia jauh dari kesan pelaku kriminal macam itu.
