
Azan magrib dari Toa masih bersahutan dari masjid sekitar, dan saya makin tersadarkan bahwa saya tak mengenali lorong itu. Dari kejauhan saya lihat portal, di bawah palang ditumbuhi rumput.
Berarti portal itu selalu tertutup. Lorong paving block juga ditumbuhi rumput, pertanda jarang dilalui kendaraan. Saya makin mendekat, dan tampaklah tak seluruh portal itu berupa palang halang rintang. Ada celah bagi orang untuk melewati dengan sedikit melompati. Sepeda motor tak dapat melewati.

Setelah melewati palang, saya menoleh ke belakang. Pak Tua penjual kitab Islami beraksara Arab, yang tadi saya salip di gang lain, juga sedang melompati. Lembaran plastik bungkus kitab, yang sebagian terbuka, masih di punggungnya. Segera saya jepret. Hasilnya kabur.

Lalu apa yang akan saya ceritakan sebenarnya? Tadi saya berjalan kaki 6,47 km, ke kawasan yang sudah sekian tahun tak saya masuki. Banyak hal sudah berubah. Spot yang dulunya kebun sudah jadi rumah. Banyak jalan tanah sudah diperkeras beton, paving block, bahkan aspal.

Saya pangling. Dan kehilangan orientasi. Saya yakin, portal ini berbeda dari portal separuh yang saya foto pada 2014 yang akhirnya digantikan tembok kompleks perumahan. Konon selain membaca dan menulis, ingatan juga dapat dipersegar dengan berjalan kaki. Namun ternyata senja tadi saya gagal. Saya merasa memasuki terra incognita, sampai akhirnya menemukan jalan raya. Saya telah memutar jauh seperti tersesat.

