
Seberapa mudah menjadi 150 orang pertama dari, katakanlah, 8 juta pelanggan pascabayar Telkomsel? Pertanyaan serupa untuk sekitar 150 juta pelanggan prabayar Telkomsel. Tentu asumsi saya mengabaikan 150 orang untuk survei Alchemer itu adalah target terbatas atau cuma kata-kata rayuan.
Itulah yang saya pikirkan setiap kali menerima SMS dari Telkomsel, siapa pun klien mereka. Rp10.000 dikalikan 150 itu Rp1,5 juta. Lebih rendah dari UMK Jakarta pegawai terendah pegawai perusahaan seluler. Jauh lebih murah dari jamuan bisnis untuk empat orang yang dilakukan pegawai setingkat manajer senior ke atas.
Bagi operator, Rp1,5 juta itu sakiprit, amat receh, bagi operator maupun mitra kerjanya. Tetapi dengan biaya irit mereka bisa mendapatkan data dari survei berkala. Dengan teknologi digital, survei lebih mudah, untuk melengkapi data internal dari statistik aktivitas pelanggan. Soal profil responden dan bobot representatif sampel dari populasi target, biarlah para ahli metodologi riset yang menjawab.
Saya berpikir, kenapa hadiahnya bukan pulsa Rp100.000? Memang sih, menjadi 150 orang pertama dari jutaan orang itu tak mudah. Selisih tak sampai sedetik di server bagi orang ke-151 berarti akan terpental. Maka saya tak berminat.
Sama-sama iseng-iseng berhadiah, saya lebih memilih klik poin ditukar kupon berhadiah. Tetapi poin sering terlupa untuk saya gunakan.
