Menantu pejabat di Hari Kebebasan Pers Dunia

Media berita yang bebas, dan berkulitas sehingga berfaedah, itulah kebutuhan kita. Eh, kita?

▒ Lama baca 2 menit

Menantu pejabat di Hari Kebebasan Pers Dunia — Blogombal.com

Tadi sore saya dapati jejak pos lawas 15 tahun silam, “Menantu Pejabat dan Bingkai Pemahaman”, dibaca orang. Tak lama kemudian saya membaca WordPress Reader di ponsel, di sana ada tulisan Teguh Santosa. Oh, saya pun tersadarkan hari ini, 3 Mei 2026, adalah Hari Kebebasan Pers Dunia.

Tentang pos pada 2011, yang bertolak dari memotret laman sebuah koran, saya menulis:


Ini bisnis, maka salah satu unsur kerja jurnalis dalam mengemas berita adalah mengenali konsumen medianya. Di mana-mana begitu.

Di sini, karena editor koran memahami kecenderungan sosial pembacanya, maka muncullah kata “mantu pejabat”. Lalu misalkan pria lain itu bukan seorang promotor tinju melainkan seorang manajer tim bobsled, olahraga yang asing bagi masyarakat kita, tentu harus dicarikan atribut lain.

Kalau dalam blog pribadi, perlukah seorang narablog mengenali pembacanya? 😛

Menantu pejabat di Hari Kebebasan Pers Dunia — Blogombal.com

Sedangkan Teguh dalam blognya menulis:



Memasuki era digital, wajah pers nasional berubah drastis. Internet, media sosial, dan platform berbagi informasi mematahkan monopoli redaksi konvensional. Siapa saja kini bisa menjadi produsen berita dengan satu gawai di tangan.

[…]

Tantangan terbesar pers nasional hari ini adalah menjaga relevansi di tengah algoritma. Berita berkualitas sering kalah cepat oleh konten sensasional yang dirancang untuk menarik perhatian sesaat. Ekonomi media pun melemah karena pendapatan iklan bergeser ke platform digital global.

Dalam hari peringatan ini, Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat mengatakan,

“Di tengah polusi dan manipulasi informasi yang kerap menyulut konflik, media harus hadir sebagai penjernih. Tanpa informasi yang akurat, berimbang, dan edukatif, mustahil membangun perdamaian yang berkelanjutan.” (Kompas.id, 3/3/2026)

Menurut Komaruddin, setiap karya jurnalistik bermutu merupakan investasi bagi terciptanya nalar publik yang sehat. Pers juga memiliki peran sentral sebagai penjaga kualitas demokrasi.

Bagi banyak orang, ucapan itu mungkin nggrambyang, atau abstrak. Namun Dewan Pers bukan hanya bicara hal muluk-muluk. Untuk Hari Kebebasan Pers Dunia, Dewan Pers juga menginginkan dua hal:

  • Regulasi yang memberikan perlindungan lebih kuat terhadap karya jurnalistik; UU yang menghargai hak cipta jurnalistik menjadi kebutuhan mendesak
  • Mengusulkan kebijakan no tax for knowledge, yakni pembebasan pajak bagi produk intelektual yang dinilai berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa

Usulan pembebasan pajak itu untuk memperkuat ekosistem pengetahuan dan mendukung keberlanjutan industri media.

Hmmm… bagaimana kehidupan media berita hari ini berikut pekerjanya? Tak semua media berita hidup sehat, demikian pula kesejahteraan pekerjanya.

Lalu orang serentak menjawab: ini karena disrupsi. Masing-masing dengan contoh. Intinya, ada yang berubah dalam masyarakat dalam menyerap informasi.

Lalu kualitas liputan dari umumnya media berita menurut Anda bagaimana? Anda yang menilai. Karena sampel amatan setiap orang berbeda. Ada dari Anda yang akrab dengan media Anu, sementara yang lain dengan media Itu.

¬ Tentang Hari Kebebasan Pers Dunia (UNESCO) dan Konferensi Global 2026

Tinggalkan Balasan