
Dua ratus meter lagi, dengan sekali belok kanan, lalu sekali belok kiri, saya sudah tiba di rumah. Namun di titik itu, dalam cuaca panas keras, saya melihat ada penjual dawet berteduh di bawah pohon entah apa. Mobil saya hentikan, lalu saya parkir di bawah naungan pohon sebangsa palem (kurma?) di depan masjid.

Saya dan istri saya turun, memesan dua kantong dawet untuk kami bawa pulang. Selagi dia melayani, saya ngobrol dengan si penjual. Saya belum pernah melihat dia di area kami. Tetapi dia bilang sudah beberapa tahun berjualan di kompleks kami. Bahkan beberapa warga yang melangsungkan siraman pengantin memesan dawet kepadanya.

Baiklah, berarti kami kurang mengenai lingkungan sehingga tak tahu keberadaan dirinya. Selama ngobrol saya mengamati dekorasi khas gerobak dawet. Sejak zaman pikulan, dawet yang mendaku dari Banjarnegara, Jateng, selalu memasang karakter Semar dan Gareng dari kayu.

Ada satu hal yang mengesankan saya, yakni swakriya si penjual, yang namanya saya lupa, dalam menghiasi gerobaknya. Tak ada hasil cetak digital. Papan nama dia buat sendiri, dia tulisi dengan kuas. Angkrek yang tangan dan kakinya tidak dapat bergerak juga dia buat sendiri.
Harga seporsi es dawet Rp6.000. Rasanya? Lumayan. Pas untuk mengademkan diri dalam cuaca kemranyas. Lalu kenapa hampir semua penjual dawet Banjarnegara menyebut dagangannya dawet ayu? Siapa yang ayu? Banyak versi cerita seputar itu. Silakan Anda cari sendiri, begitu pun pelibatan Semar dan Gareng.
