Air putih panas kok harus bayar

Sepanjang harganya masuk akal, air panas untuk minuman boleh dihitung. Masa semua harus gratis?

▒ Lama baca < 1 menit

Harga air putih panas di kedai Kasta Rasa, Jalan Kodau, Jatimekar, Jatiasih, Kobek, Jabar — Blogombal.com

Di area saya ada kedai baru. Dalam baris terakhir daftar minuman panas ada air putih panas, harganya Rp3.000. Saya setuju, lebih baik dinyatakan di depan, tertulis pula, sehingga pengudap tahu. Karena air putih panas tercatat dalam pesanan maka minuman tersebut juga akan tercatat dalam laporan penjualan harian.

Dulu banget saya pernah melihat seorang pengudap eyel-eyelan dengan kasir karena segelas air panas dihitung. Bagi si pengudap, karena air putih panas tak ada dalam menu maka tak akan dihitung dalam tagihan.

Tentu ada alasan mengapa seorang pengudap memesan air panas maupun air hangat. Misalnya karena kebiasaan minum hangat selama dan setelah makan, atau malah sebelum makan.

Saya lupa sudah berapa tahun tak memesan air minum dingin saat mengudap. Saya memilih air botolan yang bukan dari pendingin atau memesan teh tawar hangat. Sesekali minum air jeruk hangat. Di rumah, sebelum tidur dan setelah bangun tidur saya minum air putih hangat dari dispenser.

Dalam perjalanan ke luar kota, saya pernah memesan air panas di kedai untuk botol susu anak saya. Kebetulan pemilik kedai tak menghitung padahal saya sudah siap untuk membayarnya.

Misalnya kedai menerapkan harga, hal itu pun wajar. Air putih panas membutuhkan biaya, dari dispenser air minum, penjerang air elektrik, maupun air sumur dalam panci yang dijerang dengan kompor.

Pengudap bukanlah tamu personal pemilik kedai melainkan pembeli. Wajar jika kedai menerapkan harga untuk air panas. Tetapi misalnya tidak, hal itu layak kita puji.

Bagaimana kalau pengudap membeli air putih panas untuk teh celup atau bubuk kopi yang dia bawa sendiri? Meskipun tak ada larangan tertulis membawa makanan dan minuman dari luar, mestinya pengudap bertenggang rasa. Kalau membawa serbuk jamu untuk diseduh mungkin masih patut.

7 Comments

snydez Kamis 30 April 2026 ~ 09.14 Reply

hmm kalau air putih es (dingin) tidak tercantum harga?

Pemilik Blog Kamis 30 April 2026 ~ 17.51 Reply

Biasanya dikasih air botolan

Junianto Kamis 30 April 2026 ~ 06.57 Reply

Di sebelah barat Alkid (Alun-alun Kidul) Keraton Solo ada angkringan/wedangan. Tiap kali selesai berolahraga jalan kaki pagi, saya mampir di sana, nongkrong bersama banyak orangtua dengan berbagai latar belakang.

Saya selalu memesan dua gelas air putih hangat — dan membayar. Saya enggak tahu berapa harganya segelas, Rp 500 atau Rp 1.000, karena tidak pernah tanya harganya.

Saya biasa menikmati dua gelas air putih hangat di sana, ngobrol ngalor-ngidul, lalu pulang membungkus pisang buah atau penganan, membayar bungkusan itu dan air putih yang sudah saya minum, memberikan Rp 10.000-an dan menerima kembalian. Tanpa pernah tanya harga, karena saya anggap normal/tidak mahal.

Pemilik Blog Kamis 30 April 2026 ~ 08.32 Reply

Wah ini. Saya malah belum pernah ngiras cuma air putih hangat tanpa ngemil. 😅

Junianto Kamis 30 April 2026 ~ 09.46 Reply

Kawan-kawan wartawan saya yang tahu, juga suka meledek: nongkrong wedangan kok ngombene banyu putih!

Tentang cemilan, saya tetap beli meski dibungkus alias di-take away. Malu dong cuma ngiras air putih anget😁

Pemilik Blog Kamis 30 April 2026 ~ 19.00 Reply

Kenapa malu cuma minum air putih, lha kan bayar? 🤭

Junianto Kamis 30 April 2026 ~ 19.25

Ndhak didarani ngirit bingits😁

Tinggalkan Balasan