
Foto ini menarik perhatian saya karena bagus dari sisi warna, ketajaman, dan komposisi. Apa acara tersebut, mulanya tak mengundang rasa ingin tahu. Setelah saya baca kapsi, barulah saya paham:
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Isyana Bagoes Oka (berdiri) dan beberapa wakil menteri hadir dalam menonton bareng film Para Perasuk di XXI Senayan City, Jakarta, Selasa (28/4/2026). Hadir juga Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari menonton film karya Wregas Bhanuteja ini.
Dua orang yang menarik perhatian saya, dari foto berita tunggal di Kompas (Rabu, 29/4/2026), adalah pria di kiri yang sedang menatap Bu Wamen dan seorang perempuan di kanan yang sedang menatap ponsel yang dia pegang. Pendar tipis cahaya layar ponsel menyapa wajahnya.
Dalam bahasa yang mudah namun belum tentu tepat, kita dapat mengatakan perempuan itu sedang asyik dengan ponselnya, padahal Bu Wamen sedang menjadi pusat perhatian hadirin. Lalu apa masalahnya?
Yah, inilah perbedaan foto dan video adegan. Foto membekukan peristiwa sepersekian detik. Video merekam proses lebih dari satu detik.
Artinya, video memberikan pemahaman kepada kita apa sebenarnya yang sedang dilakukan perempuan itu dengan ponselnya. Jangan-jangan dia ditugasi oleh Bu Wamen untuk melakukan suatu hal dengan ponselnya.
Judul pos ini, “Terjepret kamera sedang berponselria”, dapat Anda tafsirkan menghakimi, menggiring pembaca untuk menyimpulkan bahwa perempuan dalam foto tersebut lebih mementingkan isi layar ponselnya ketimbang suasana acara yang dia hadiri. Saya mohon maaf.
Kini persoalan saya arahkan kepada diri kita. Pernahkah Anda terfoto sedang menatap ponsel Anda — dengan tafsiran menatap layar, bukan sedang memfoto maupun berswafoto — seolah-olah Anda tak menghiraukan suasana di sekitar Anda, tak melibatkan diri, padahal etiket menuntut Anda menghargai orang lain yang sedang menjadi pusat perhatian, misalnya berpidato atau memberi salam?
Kalimat barusan terlalu panjang. Yang lebih simpel: pernah nggak sih Anda kejepret sedang cuek berponselria?
Jika ya, bisa jadi membuat Anda tak nyaman. Siapa tahu Anda terpaksa menatap layar karena ada kabar wigati bahwa orang rumah barusan dirawat IGD rumah sakit. Tetapi orang lain yang melihat foto tak tahu duduk maupun berdiri masalahnya.
Fotografi digital, apalagi dengan ponsel, membuat siapa pun mudah memotret tanpa hirau jumlah sisa bingkai gambar dalam film seperti fotografi analog. Apapun akan terfoto, dengan maupun tanpa izin subjek yang terjepret.
Hal yang merepotkan, hasil fotografi digital mudah digandakan dan disebarkan sebagai bagian dari arsip sosok dan jejak kita dalam kehidupan. Termasuk foto di Kompas ini.
Sebelum ada ponsel, bahkan sebelum kemunculan ponsel pintar serbaguna, foto macam apa yang menampilkan seseorang sedang asyik dengan barang bawaannya di tengah acara?

2 Comments
saya sering difoto dengan muka serius ketika nyetir 😀
Lho malah bagus. Konsentrasi 🤭👍