Rencana menutup prodi yang tak ramah pasar

Jurusan filsafat mungkin tak dibutuhkan pasar. Perguruan tinggi sebagai pabrik SDM harus market driven?

▒ Lama baca < 1 menit

Masalah program studi di perguruan tinggi Indonesia — Blogombal.com

Saat menghadiri midadarèni, Pak Toni Tumbler penasaran, “Pemerintah mau nutup program studi yang alumninya surplus. Maksudnya apa ya, Oom?”

“Sekjen Badri Munir Sukoco yang lebih paham. Kayaknya dia nganggap perguruan tinggi sebagai pabrik SDM dianggap nggak berhasil memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja,” jawab Kamso.

“Untung saya cuma tamatan SMA. Juga untung kerja di perusahaan keluarga, ditumbuhkan buat berkembang. Ikut macam-macam kursus, seminar, banyak deh. Dua anak jadi orang bank dan dokter. Terus maunya Sekjen Kemendik… eh apa sih namanya, itu apa?”

“Kemendiktisaintek kalo nggak salah. Maunya dia, sekjen itu, pendidikan tinggi harus market driven.”

“Kayak kursus dong. Atau diploma vokasional dong, Oom! Atau malah kayak bikin laundry kiloan dan rumah petak kontrakan. Kudu market driven!”

“Nggak tau. Saya bukan ahli pendidikan. Eh, katanya prodi keguruan surplus alumni. Kebutuhan cuma dua puluh ribu, tapi saban tahun ada empat ratus sembilan puluh ribu lulusan.”

“Kalo itu harus tutup, entar prodi filsafat, sastra, antropologi, sejarah, arkeologi, juga ditutup, Oom?”

“Saya nggak tau apa sudah surplus.”

“Terus yang sesuai kebutuhan pasar, dalam hal ini industri, apa dong?”

“Nggak tau saya. Bikin prodi itu nggak semudah hari ini bikin bimbel lantas bulan depan udah operasional di ruko. Bikin prodi yang hari ini diyakini laku, apa sepuluh tahun lagi peta kebutuhan tenaga kerja nggak berubah?”

“Lah tapi, maap kata nih, orang belajar filsafat buat apa? Atau belajar sosiologi deh. Gitu juga ilmu politik, Oom….”

“Kenapa nggak sekalian nanya belajar filologi, meskipun doktornya belum surplus, buat apa?”

“Mungkin subprodi gituan kalo dibiayai pemerintah jadi mewah, sementara swasta nggak berani bikin. Gitu ya, Oom?”

“Embuh.”

Pak Ahmad Mbako yang sedari tadi hanya diam menikmati tembakau dari pipa akhirnya bicara, “Menurut saya pemerintah nggak salah. Jaman udah beda. Universitas harus tanggap terhadap pasar. Isu link and match masih relevan.”

Lalu, “Kalo cuma melahirkan pemikir atau bidang yang sundul langit, entar aja kalo negara udah makmur. Ada biaya buat riset dan lainnya.”

Ada tambahan, “Anak saya sarjana sastra Jawa akhirnya buka warung kopi, di sebelahnya kios fotokopi kakaknya yang dulu sekolah pendidikan guru. Ilmu nggak kepake. Emang tetep bisa hidup sih, tapi belum mampu beli rumah sendiri. Mobil seken mereka aja dari bapaknya. Orang hidup harus realistis. Cuan is not everything but without it everything is nothing.”

Tinggalkan Balasan