
Hanya gambar aneka makhluk. Itulah yang saya lihat di halaman 1 koran Kompas hari ini (Kamis, 23/4/2026). Maka saya pun membatin ini iklan apa ya, kalau iklan bank tak mungkin, karena seperti ilustrasi untuk buku anak-anak. Lalu saya buka halaman berikutnya. Ternyata iklan film Wregas Bhanuteja, Para Perasuk. Wah, saya terkecoh.

Kreatif juga tim promosi film ini. Ilustrasi halaman depan, sebut saja halaman A, tak menggiring terkaan terhadap hal yang bersentuhan dengan magi. Hal lain yang menarik bagi saya adalah pemanfaatan koran, justru ketika kini orang jauh dari surat kabar.
Tarif dasar iklan display sehalaman (7 x 540 mm; per milimeter kolom Rp215.000), full color, di Kompas sekitar Rp800 juta. Kalau di halaman A tambah 45 persen, jatuhnya sekitar Rp1,1 miliar, belum termasuk PPN 11 persen. Para Perasuk membeli tiga halaman, untuk halaman B dan C tambah 30 persen.
Asumsi saya bisa salah, Anda yang paham pembelian media di dunia periklanan, termasuk diskon untuk agensi, bukan pemasang langsung, silakan mengoreksi.
Iklan ini sebenarnya jaket, atau cover wrap, ada juga yang menyebutnya wrap-around. Biasa dalam bisnis advertensi koran, tabloid, dan majalah. Artinya sampul maupun halaman depan reguler tetap ada. Maka edisi halaman depan Kompas seperti seharusnya, namun ada di lembar kelima.

Kok urutan halaman kelima, bukan keempat? Film Wregas membeli tiga halaman, yakni secara de facto adalah halaman pertama, kedua, dan ketiga (A, B, C).
Halaman de facto keempat (halaman D), sebagai halaman genap, ada di kiri. Padahal halaman pertama koran, yang dalam kondisi normal bernomor halaman 1, ada di kanan. Semua barang cetakan beraksara Latin dan aksara lain yang dibaca dari kiri ke kanan memang begitu, arah buka halaman dari kanan ke kiri, termasuk buku.
Alhasil, karena Kompas tak mau rugi menampilkan halaman polos di halaman D maka diisi Foto Cerita. Meskipun tanpa nomor, halaman depan Kompas hari ini berstatus halaman 3. Jaket iklan dianggap berstatus halaman 1 dan 2.
Maaf jika Anda bingung. Saya memang masih harus belajar menuliskan pemerian, atau deskripsi, dengan efektif. Mestinya saya minta bantuan akal imitasi.
Ribet ya? Itulah bedanya koran dan buku. Untuk paginasi buku, bab baru selalu di halaman gasal, di kanan, dengan risiko kalau bab sebelumnya berakhir di halaman gasal maka halaman sebaliknya, yang genap, pun polos.
Kenapa begitu karena basis penjilidan buku adalah lipatan tengah, sehingga jumlah halaman harus habis dibagi empat. Waktu kecil saya suka membuat komik ngawur, kertas saya lipat dan saya jilid dengan staples. Maka saya sebagai bocah dahulu agak paham soal paginasi, termasuk halaman sambungan yang panjang dalam majalah era letterpress ternyata dalam lembar yang sama dengan halaman perujuk sebelum kertas dilipat. Tentu tak semua halaman sambungan begitu.
Saat membuat komik, panjang cerita saya sesuaikan dengan jumlah halaman. Kalau kurang, kertas halaman tambahan saya rekatkan dengan lem. Pernah saya mencoba jilid benang, namun merepotkan. Padahal dahulu ada buku tulis dengan jilid benang.

Kembali ke film Wregas, pada 2023 Kompas juga memuat jaket iklan Budi Pekerti. Saya lupa apakah untuk Penyalin Cahaya (2021) juga ada jaket iklan. Film ini masih ada di Netflix.
