
Ketika kain gendongan tersingkap, tampaklah lengan kaus balita itu bertuliskan Indomie. Punggung kaus juga. Ketika ibunya berdiri, karena suster ruang dokter anak di rumah sakit memanggil, tampaklah celana anak itu juga Indomie.
Aha! Saya ingat, pernah melihat baju dengan motif cetak digital Indomie di lokapasar, selain untuk orang dewasa juga untuk anak-anak. Untuk anak-anak bisa satu setel, atasan dan bawahan.

Misalnya masih era sablon manual, dengan proses kerja cetak saring, melalui sutra sintetis berpori dan sapuan rakel (saput kayu untuk menekan tinta), seperti dalam pembuatan batik printing, tentu lebih repot. Dengan cetak digital, direct to garment, urusan gambar apa pun lebih mudah. Jumlah warna bukan masalah.
Indomie adalah produk untuk konsumen, yang dalam kehidupan menjadi nama benda, menggusur Supermi, padahal sama-sama bikinan PT Indofood Sukses Makmur Tbk — memang sih, Supermi lahir lebih dulu, dari kompeni lain, sebelum diakuisi Grup Salim. Mi instan adalah Indomie. Bukan jenama lain.

Ketika Andy Warhol (1928–1987) bikin serial Campbell’s Soup pada 1960-an, dengan akrilik di atas kanvas dan stempel karet, belum sablon, esensi pop art mengemuka sebagai pesan: seni adalah untuk semua orang, bukan ranah adiluhung, cukup dengan membekukan produk harian untuk konsumen. Gaya produk massal berupa serigrafi, padahal eksklusif, seolah mengejek kemapanan.
Kemudian karya Warhol dan perupa pop art lain, seperti Roy Liechtenstein (1923–1997) dengan gaya komik beraster, menjadi bagian dalam proses transmedia, legal maupun tidak. Ada di kaus sampai magnet kulkas.

Akan tetapi dari sisi kemudahan perwujudan spirit, gaya garis dan bidang geometris perupa neoplastisisme Piet Mondrian (1872–1944) nan simpel lebih membahana, mudah ditiru dan dikembangkan, dari gaun Yves Saint Laurent sampai dekorasi rangka sepeda. Sayang gaya kotak-kotak warna-warni warung Jamu Jago di bawah Jaya Suprana kemudian ditinggalkan.

Sebenarnya sebelum ada cetak digital baju Indomie dalam ukuran besar, The Goods Dept. milik Anton Wirjono sudah melakukan. Seingat saya ada baju bergambar logo Indomie dan logo Restoran Sederhana Masakan Padang, belasan tahun silam. Setahu saya peneraan logo itu secara legal.

Lalu gaya sejenis, dari logo Ayam Jago berhak cipta pada mangkuk dalam aneka produk sejak kaus sampai topi hingga lukisan ayam dan lele ala tenda warung pecel lele Lamongan pada baju dan kaus. Ada semangat bergurau dalam transmedia.

Ketika belasan tahun silam sampul Tempo menampilkan Soeharto dalam konstruksi ala Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci, sang tokoh memegang mangkuk bergambar ayam jago nan ikonis.
Saya membayangkan kaleng kornet kotak cap Pronas dengan bukaan kunci gulung juga layak di-pop-art-kan. Kornet adalah serapan bahasa Indonesia untuk corned.

